Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

AS Ajukan 17 Dakwaan Baru Terhadap Julian Assange

Jumat 24 May 2019 06:31 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Pendiri Wikileaks Julian Assenge tiba di Westminster Magistrates' Court di London, Inggris setelah ditahan Metropolitan Police.

Pendiri Wikileaks Julian Assenge tiba di Westminster Magistrates' Court di London, Inggris setelah ditahan Metropolitan Police.

Foto: Victoria Jones/PA via AP
Assange didakwa menerima dan mempublikasi dokumen rahasia AS.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengajukan 17 dakwaan baru terhadap pendiri Wikileaks Julain Assange. Dilansir di BBC, Jumat (24/5) dakwaan terakhir menuduhnya menerima dan mempublikasi dokumen rahasia.

Sebelumnya, pada bulan lalu ia didakwa atas tuduh berkonspirasi dengan mantan analis intelijen Chelsea Manning sehingga ia mendapatkan akses ke dalam jaringan Pentagon. Assange sedang menjalani masa tahanan di penjara Inggris karena melanggar syarat jaminan. Pada bulan lalu, laki-laki 47 tahun itu dinyatakan bersalah setelah ia ditangkap di Kedutaan Besar Ekuador.

Ia mendapatkan suaka sejak 2012 di Kedutaan Besar Ekuador. Ia mencari perlindungan atas tuduhan pemerkosaan di Swedia. Ia mengaku tidak bersalah dalam kasus tersebut.

Dakwaan terbaru ini mengatakan Assange berkonspirasi dengan Manning untuk mendapatkan dan mengungkapkan data rahasia AS. Mereka juga didakwa mengungkapkan dan membahayakan sumber rahasia di Timur Tengah dan Cina.

"Ini kegilaan, ini akhir dari keamanan jurnalisme nasoonal dan amandemen pertama," cuit Wikileaks di media sosial Twitter.

Manning dinyatakan bersalah tahun 2013 atas tuduhan spionase untuk membocorkan rahasia militer ke Wikileaks. Tapi masa tahanannya diringankan. Baru-baru ini ia kembali dipenjara karena menolak bersaksi untuk memberatkan Assange.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA