Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Pendaki Asal Inggris Tewas Setelah Capai Puncak Everest

Ahad 26 May 2019 03:09 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Endro Yuwanto

Pendaki harus mengantre menuju puncak Gunung Everest di Nepal.

Pendaki harus mengantre menuju puncak Gunung Everest di Nepal.

Foto: The Independent
Sepanjang 2019, total jumlah korban jiwa pendakian Everest berjumlah 17 orang.

REPUBLIKA.CO.ID, KATHMANDU -- Pendaki Inggris Robin Fisher meninggal dunia setelah berhasil mencapai puncak Gunung Everest. Pria 44 tahun itu tiba di puncak pada Sabtu (25/5) pagi. Dia bertolak turun dan pingsan setelah berjalan sejauh 150 meter.

Sherpa, sebutan untuk pemandu dari suku setempat, berusaha membuatnya siuman dengan oksigen dan air, tetapi gagal. "Para pemandu kami berusaha menolongnya tapi dia meninggal dunia tidak lama setelahnya," kata Murari Sharma dari Everest Parivar Expedition, Ahad (26/5).

Fisher adalah salah satu dari 10 pendaki yang meninggal dunia selama beberapa pekan terakhir. Korban jiwa lain yang berpulang pada pendakian musim semi ini antara lain dari India, Utah, Austria, Irlandia, serta seorang pemandu Nepal.

Sebagian pemandu menduga banyaknya korban jiwa turut dipengaruhi kondisi Everest yang padat pendaki musim ini. Ada 381 pendaki yang mendapat izin menuju puncak, sehingga harus mengantre di sejumlah titik sebelum mencapai Everest yang setinggi 8.848 meter.

Salah satu lokasi menunggu ada di area setinggi 7.985 meter di atas permukaan laut (mdpl) bernama Death Zone. Sherpa bernama Tshering Jangbu mengatakan, 'kemacetan' di musim ini adalah yang paling parah selama dia mendampingi pendaki ke puncak.

"Sebagian besar pendaki yang naik ke puncak tanpa suplemen botol oksigen ekstra tampak paling menderita. Mereka menderita karena kemacetan yang ada, bukan karena angin dan udara dingin," kata Jangbu.

Direktur Jenderal Departemen Pariwisata Nepal Danduraj Ghimire menolak klaim bahwa kepadatan membuat pendakian lebih berbahaya. Menurut dia, kondisi padat pada April dan Mei adalah hal biasa. Tercatat 600 orang (termasuk pemandu) yang naik per 24 Mei.

"Faktornya bukan karena kemacetan itu. Jumlah pendaki agak tinggi tahun ini karena sebagian besar orang ingin mendaki dalam jendela cuaca pendek," kata Ghimire, dikutip dari laman Fox News.

Sepanjang 2019, total jumlah korban jiwa pendakian Everest berjumlah 17 orang. Angka itu menjadi rekor terburuk dalam beberapa dekade, setelah memperhitungkan penyebab kematian seperti longsoran salju dan gempa bumi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA