Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Selandia Baru Sahkan Anggaran Kesejahteraan untuk Rakyat

Kamis 30 May 2019 15:51 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern

Foto: EPA-EFE/Boris Jancic
Selandia Baru meningkatkan anggaran untuk kesehatan mental dan masyarakat adat.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Selandia Baru mengesahkan anggaran kesejahteraan pertama, Kamis (30/5). Hal itu dinilai menjadi suatu langkah yang akan memperkuat reputasi Perdana Menteri Jacinda Ardern untuk kepemimpinan yang penuh kasih setelah pembantaian masjid Christchurch.

Baca Juga

Ardern mengumumkan peningkatan untuk anggaran untuk kesehatan mental, kesejahteraan masyarakat adat, dan kemiskinan anak. Menurutnya, anggaran tersebut dibuat sebagai upaya pertama di dunia untuk mengubah kemajuan ekonomi.

"Kami mengatakan bahwa kami akan menjadi pemerintah yang melakukan berbagai hal secara berbeda, dan untuk anggaran ini kami telah melakukan hal itu," katanya seperti dilansir France24, Kamis.

"Hari ini kita telah meletakkan fondasi untuk tidak hanya satu anggaran kesejahteraan, tetapi pendekatan yang berbeda untuk pengambilan semua keputusan pemerintah," tambahnya.

Meski demikian, banyak kecaman terhadap anggaran yang diresmikan Ardern. Namun tetap, Ardern memandang anggaran tersebut sebagai cara untuk menyampaikan agenda reformis yang ia kampanyekan pada pemilu 2017. 

Pemimpin Selandia Baru yang secara luas memuji penanganan hormatnya atas penembakan Maret di mana 51 jamaah Muslim ditembak sehinggal meninggal dunia itu, mengatakan anggaran itu menempatkan warganya di atas indikator ekonomi. Sebab, pada sisi ekonomi negara, ia memperkirakan surplus sebesar 3,5 miliar dolar Selandia Baru pada 2018 hingga 2019 yang naik menjadi 6,1 miliar dolar Selandia Baru pada 2022-2023.

Ardern optimis dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 2,7 persen pada periode yang sama. Menurutnya inflasi melayang di sekitar 2,0 persen dan pengangguran sedikit di atas 4,0 persen.

Faktor kesejahteraan, kata dia, seperti harapan hidup, tingkat pendidikan, kualitas udara, dan rasa memiliki juga dimasukkan dalam keputusan anggaran tersebut. Kerajaan Himalaya di Bhutan pertama kali mengenalkan gagasan memprioritaskan kebahagiaan atas pertumbuhan pada awal 1970-an. Kerajaan juga memperkenalkan Indeks Kebahagiaan Nasional Bruto pada 2008.

Banyak negara-negara mengadopsi konsep serupa, meski upaya Selandia Baru disebut-sebut sebagai yang pertama kali menjadi inti dari keputusan pengeluaran pemerintah. 

Juru bicara keuangan oposisi Amy Adams menilai pendekatan anggaran yang digagas Ardern sebagai tipu muslihat. Menurutnya, anggaran hanya berputar dan tidak ada substansi.

"Tampaknya ini tentang mengukur perasaan matahari dan bulan Anda, meningkatkan lokus kendali Anda, dan memahami kemampuan Anda untuk menjadi diri sendiri," katanya.

"Saya tidak tahu apa artinya itu dan, di luar birokrasi Wellington, saya tidak yakin ada yang tahu," kata dia.

Kendati demikiam, menurut Ardern pendekatan kesejahteraan memberikan manfaat nyata. Alasannya, dapat mengurangi kemiskinan anak dan kekerasan keluarga sebagai contoh praktis. "Ketika anak-anak kita berbuat lebih baik, kita semua berbuat lebih baik," katanya.

"Memutus siklus kekerasan, bisa menghemat biaya, tetapi yang lebih penting itu membuat kita menjadi negara yang lebih baik dan membuat kehidupan anak-anak lebih kaya dan lebih memuaskan," kata Ardern.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA