Selasa 04 Jun 2019 15:55 WIB

Menhan Cina: Tindakan Keras di Tiananmen Sudah Tepat

Wei menilai aksi protes di Tiananmen pada 30 tahun lalu memang perlu ditumpas.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah
Tiananmen
Foto: AP
Tiananmen

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Menteri Pertahanan Cina, Wei Fanghe mengatakan, tindakan keras terhadap pengunjuk rasa di Lapangan Tiananmen Beijing pada 30 tahun lalu merupakan keputusan tepat. Wei mengungkapkan pernyataan tersebut dalam sesi tanya jawab pada sebuah dialog di Hotel Shangri La, Singapura.

"Semua orang peduli tentang Tiananmen setelah 30 tahun. Selama 30 tahun, Cina di bawah Partai Komunis telah mengalami banyak perubahan. Apakah Anda pikir pemerintah salah dengan penanganan pada 4 Juni? Ada kesimpulan untuk kejadian itu. Pemerintah sangat menentukan dalam menghentikan turbulensi (politik)," kata Wei, Selasa (4/6).

Baca Juga

Wei menambahkan, dalam perkembangannya sejak 1989 menunjukkan bahwa tindakan yang diambil oleh pemerintah tersebut telah dibenarkan. Menurut Wei, aksi protes Tiananmen adalah kekacauan politik yang perlu ditumpas oleh pemerintah dan merupakan kebijakan tepat.

"Karenanya, kini Cina telah menikmati stabilitas, dan jika Anda mengunjungi Cina, Anda dapat memahami bagian sejarah itu," ujar Wei.

Pada 15 April hingga 4 Juni 1989, mahasiswa di Cina memimpin gerakan protes terhadap pemerintah. Mereka menyuarakan kekecewaannya atas ketidakstabilan ekonomi dan praktik korupsi. Aksi yang semula hanya berskala kecil itu kemudian diikuti massa yang lebih luas.

Kala itu aksi mahasiswa berubah menjadi demonstrasi pro-demokrasi. Namun Pemerintah Cina meresponsnya dengan represif. Militer dikerahkan untuk menekan dan menghantam massa. Menurut laporan, lebih dari 200 orang tewas dan 7.000 lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa tersebut.

Tragedi ini mendapatkan kecaman dari kelompok-kelompok hak asasi manusia. Bahkan, Cina tidak pernah merilis kepastian jumlah angka kematian akibat aksi demonstrasi tersebut. Juru bicara Kementarian Pertahanan, Wu Qian mengecam penggunaan kata "penindasan" untuk menggambarkan tanggapan militer terhadap aksi protes pada 1989 itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement