Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Barter Jadi Solusi Warga Venezuela Hadapi Krisis

Sabtu 08 Jun 2019 18:40 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Warga Venezuela memasuki Kolombia dengan menyeberangi jembatan internasional Simon Bolivar dari San Antonio del Tachira, Venezuela. Rakyat Venezuela mengalami kelangkaan makanan dan obat-obatan.

Warga Venezuela memasuki Kolombia dengan menyeberangi jembatan internasional Simon Bolivar dari San Antonio del Tachira, Venezuela. Rakyat Venezuela mengalami kelangkaan makanan dan obat-obatan.

Foto: AP Photo/Rodrigo Abd
Inflasi di Venezuela mencapai satu juta persen.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Pantai Patanemo merupakan salah satu primadona destinasi wisata di Venezuela. Hamparan laut biru dan bentangan pasir putih yang diapit bukit-bukit berhutan merupakan daya tarik yang dimilikinya. Tak mengherankan banyak turis, baik domestik maupun mancanegara, mengunjungi pantai tersebut.

Namun sejak dua tahun terakhir, pantai Patanemo mulai ditinggalkan wisatawan. Penjual pakaian renang dan empanda (kue tradisional) yang biasanya hilir mudik di bibir pantai, kini tak tampak lagi. Wilayah itu pun terisolasi karena memburuknya layanan telekomunikasi dan listrik.

Krisis ekonomi Venezuela merupakan penyebab utama terjadinya hal tersebut. Hiperinflasi memaksa warga Venezuela, termasuk mereka yang tinggal di sekitar pantai Pantanemo, bergantung pada barter.

Orang-orang yang berjalan dari kota terdekat dengan membawa pisang raja atau beras telah menjadi pemandangan lumrah di pantai Patanemo. Mereka adalah warga yang berharap dapat menukar barang atau makanan miliknya dengan hasil tangkapan nelayan setempat.

Yofran Arias adalah salah satu nelayan yang menukar tangkapan ikannya dengan barang atau makanan lain. "Uang tidak membeli apa pun sehingga lebih baik bagi orang untuk membawa makanan sehingga kami bisa memberi mereka ikan," ujarnya.

Warga di sana pun jarang melakukan perjalanan ke pusat-pusat kota meskipun jaraknya tak terlalu jauh. Minimnya transportasi umum dan mahalnya harga bahan bakar adalah penyebab mereka segan berkunjung ke kota.

"Saya belum pernah ke pusat kota selama hampir dua tahun. Apa yang akan saya lakukan di sana? Saya tidak punya cukup uang untuk membeli baju atau celana pendek. Saya lebih baik di sini, bertukar hal untuk bertahan hidup," ujar Luis, seorang nelayan di Patanemo.

Barang-barang yang dibarter di setiap daerah memang berbeda. Di pegunungan di negara bagian tengah Lara, penduduk kota Guarico, menanam dan membudidayakan biji kopi.

Mereka menukar biji kopi yang telah dipanggang dengan berbagai macam barang atau jasa, seperti pangkas rambut dan suku cadang mesin pertanian. "Berdasarkan biaya produk, kami setuju dengan pelanggan mengenai jumlah kilogram atau kantung kopi yang harus mereka bayar," kata seorang manajer toko perangkat keras, Haideliz Linares.

Menurut Linares, transaksi didasarkan pada harga referensi untuk berapa banyak kopi diambil di pasar lokal. Pada April lalu, satu kilogram biji kopi dihargai senilai tiga dolar AS atau sekitar Rp 42 ribu (dengan kurs Rp14 ribu per dolar AS).

Di Kota El Tocuyo, tiga karung kopi berkapasitas 100 kilogram dapat ditukar dengan 200 liter bensin. Bahan bakar menjadi barang berharga mengingat semakin minimnya pasokan karena masalah operasional kronis di perusahaan minyak negara tersebut, PDVSA.

Selain kopi dan ikan, di Kota Borburata, warga Venezuela mencoba bertani sayuran untuk dibarter dengan kebutuhan lainnya. Keila Ovalles, misalnya, menanam tonat, terung, dan markisa di halaman belakang rumahnya yang sederhana.

Ovalles merasa cara hidupnya saat ini mirip dengan keluarganya dulu di awal abad ke-20. "Saya memberitahu orang-orang saya bertukar buah markisa untuk sesuatu yang lain. Mereka menyebarkan berita itu dan seseorang selalu datang," kata wanita berusia 55 tahun tersebut.

Dulu Ovalles cukup gemar minum kopi. Namun, sekarang dia tak mampu lagi membelinya. Sebagai gantinya, dia membuat teh dari serai.

Venezuela menderita salah satu keruntuhan ekonomi terburuk dalam sejarah modern. Menurut angka yang dirilis kongres Venezuela yang dijalankan oposisi, inflasi telah mencapai satu juta persen.

Memang masih banyak warga di sana yang mencoba bertahan menghadapi situasi tersebut dengan menerapkan sistem barter. Namun tak sedikit pula warga yang memutuskan meninggalkan Venezuela.

Mereka bermigrasi ke negara-negara tetangga, seperti Brasil dan Kolombia. Menurut PBB, sebanyak empat juta warga telah hengkang dari Venezuela. Sebanyak 3,3 juta di antaranya keluar sejak 2015.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA