Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

AS Pertimbangkan Kirim Lebih Banyak Pasukan ke Timteng

Senin 17 Jun 2019 12:42 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah

Sebuah kapal tanker minyak terbakar di laut Oman, Kamis (13/6). Dua kapal tanker dekat Selat Hormuz, Teluk Oman dilaporkan diserang.

Sebuah kapal tanker minyak terbakar di laut Oman, Kamis (13/6). Dua kapal tanker dekat Selat Hormuz, Teluk Oman dilaporkan diserang.

Foto: AP Photo/ISNA
Pertimbangan pengiriman pasukan sebagai respons serangan kapal tanker.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Tim keamanan nasional Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan membahas pertimbangan untuk mengirim pasukan militer negara itu lebih banyak ke Timur Tengah (timteng) dalam waktu dekat. Hal itu dilakukan sebagai respons atas serangan yang terjadi terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman pada pekan lalu.

Baca Juga

Meski demikian, nampaknya Trump belum diberitahu secara khusus mengenai hal tersebut, termasuk tentang kapan keputusan akan dibuat. Sebelumnya, Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengisyaratkan agar diskusi dilakukan pada Jumat (14/6) lalu dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih.

"Ketika Anda melihat situasinya, sebuah kapal Norwegia, kapal Jepang, Kerajaan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), 15 persen dari aliran minyak dunia melalui Selat Hormuz, jadi kami jelas perlu membuat rencana darurat jika situasinya memburuk dan kami juga perlu memperluas dukungan kami untuk masalah internasional ini,” ujar Shanahan dilansir 9News, Senin (17/6).

Menurut para pejabat AS, diskusi tersebut berpusat pada misi pencegahan dan pertahanan terhadap agresi Iran dan kekuatan spesifik apa yang diperlukan untuk melakukan misi itu. Namun, pasukan tempur darat untuk saat ini bukan bagian dari diskusi.

Menurut para pejabat, pengerahan pasukan tambahan seperti baterai rudal Patriot, jet tempur, dan kapal dapat berkontribusi untuk pencegahan dan pertahanan yang lebih besar terhadap penembakan rudal Iran. Bulan lalu, Komando Pusat AS mengirim pasukan awal ke Timur Tengah.

Jika pengerahan pasukan tambahan dilakukan, hal ini pada dasarnya memenuhi permintaan yang telah dibuat oleh Frank McKenzie, komandan Komando Pusat AS pada Mei lalu, Dalam permintaan awal adalah untuk ribuan tentara berdasarkan kemampuan yang dibutuhkan, beberapa pejabat AS mengatakan pada saat itu.

The New York Times juga melaporkan para pejabat keamanan nasional AS bertemu pada Jumat pekan lalu di Gedung Putih untuk membahas serangan kapal tanker di Timur Tengah. Ada juga sebuah proposal yang dipertimbangkan oleh Pentagon untuk mengirim lebih banyak pasukan militer ke wilayah Teluk Persia.

Insiden serangan dua kapal tanker minyak di Teluk Oman terjadi pada Kamis (13/6) kemarin. Kejadian ini juga datang bersamaan dengan adanya kunjungan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke Iran, yang bertujuan meredakan ketegangan negara Timur Tengah itu dengan AS.

Sebelumnya, insiden serupa juga terjadi pada Mei lalu di lepas pantai UEA. Saat itu, ada empat kapal tanker minyak Arab Saudi yang diserang dan disebut sebagai sebuah sabotase. Dalam beberapa waktu terakhir, ketegangan antara AS dan Iran meningkat, mempengaruhi situasi di kawasan regional tersebut.

AS menyalahkan Iran sebagai dalam utama insiden serangan kapal tanker tersebut. Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan dugaan itu didasarkan pada laporan intelijen serta senjata yang digunakan. Meski demikian, ia tak memberikan bukti untuk mendukung klaim tersebut.

Iran secara tegas telah membantah tuduhan AS yang menyatakan negara itu berada di balik serangan dua kapal tanker di Teluk Oman. Negara Republik Islam itu juga menyatakan tuduhan AS tidak memiliki dasar yang jelas.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menggambarkan  serangan tanker minyak di Teluk Oman merupakan serangan yang mencurigakan. Dia menyerukan adanya dialog regional.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA