Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Gempa di Cina, 11 Orang Meninggal dan 122 Terluka

Selasa 18 Jun 2019 09:54 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Warga duduk di samping reruntuhan rumah yang hancur akibat gempa bumi di Longmen Township, Lushan County, Ya'an, provinsi Sichuan, Cina.

Warga duduk di samping reruntuhan rumah yang hancur akibat gempa bumi di Longmen Township, Lushan County, Ya'an, provinsi Sichuan, Cina.

Foto: AP
Gempa berkekuatan 6,0 skala Richter melanda provinsi Sichuan, Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Gempa berkekuatan 6,0 skala Richter (SR) melanda provinsi Sichuan di Cina barat daya, Senin (17/6), menyebabkan 11 orang meninggal dan 122 lainnya terluka.

Kantor berita Xinhua, seperti dilansir di Channel News Asia, Selasa (18/6), melaporkan tim penyelamat bergegas ke daerah yang terkena hujan lebat di dekat pusat gempa yang terletak di luar kota Yibin. Menurut Pusat gempa bumi Cina, gempa itu terjadi sekitar pukul 10.55 di kedalaman 16 kilometer.

Serangkaian empat gempa susulan, yang terbesar memiliki kekuatan 5,1 SR terjadi dalam 40 menit berikutnya. Survei Geologi Amerika Serikat (AS) menyebutkan besarnya gempa utama di 5,8 SR dan kemungkinan kerusakan besar dan bencana akan meluas. Pejabat setempat menyatakan kematian dan cedera semuanya terjadi di kabupaten Changning dan Gongxian.

Sebuah hotel yang dekat dengan pusat gempa runtuh, tetapi tidak jelas apakah ada korban dari lokasi. Retakan muncul di beberapa jalan raya daerah.

Lebih dari 300 petugas pemadam kebakaran telah dikirim ke tempat kejadian. Petugas penyelamat juga dikirim dengan 5.000 tenda, 10 ribu dipan lipat, dan persediaan darurat lainnya.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan lampu gantung dan lampu lainnya bergoyang. Gempa bumi secara teratur menghantam Sichuan, tempat gempa berkekuatan 7,9, yang menyebabkan 87 ribu orang tewas atau hilang pada 2008.

Pada Februari, tiga gempa bumi melanda daerah Rongxian di provinsi itu. Peristiwa tersebut menewaskan dua orang dan melukai 12 lainnya, korban menyalahkan teknologi fracking atas hal ini. Pemerintah setempat kemudian menghentikan penambangan shale gas setelah ribuan penduduk memprotes.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA