Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Suriah tak Ingin Berperang dengan Turki

Selasa 18 Jun 2019 16:45 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Kondisi pusat kota Idlib, Suriah

Kondisi pusat kota Idlib, Suriah

Foto: The Guardian
Turki menyebut pos pengamatan di Idlib diserang dari daerah yang dikendalikan Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moualem berharap negaranya tidak berperang dengan Turki. Pernyataan itu muncul setelah Ankara menyebut bahwa pos pengamatannya di Idlib diserang dari daerah yang dikendalikan pasukan Pemerintah Suriah. 

"Kami berharap militer kami dan militer Turki tidak berperang. Ini adalah sikap prinsipil kami," ujar al-Moualem seusai bertemu Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi di Beijing pada Selasa (18/6). 

Baca Juga

Dia menegaskan pasukan Pemerintah Suriah tak memerangi Turki di Idlib. "Yang kami lawan adalah teroris, terutama di Idlib, yang merupakan wilayah Suriah, bagian dari negara kami," ucapnya. 

"Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang ingin dilalukan Turki di Suriah? Turki menduduki bagian dari tanah Suriah dan memiliki kehadiran militer di bagian-bagian tertentu di Suriah," kata al-Moualem menambahkan. 

Dia pun mempertanyakan apakah militer Turki hendak melindung Front al-Nusra atau gerakan teroris tertentu, termasuk Gerakan Islam Terkestan Timur. "Pertanyaan ini perlu ditanyakan kepada Turki, apa tujuan sebenarnya mereka? Kami memerangi kelompok dan organisasi teroris itu. Seluruh dunia percaya orang-orang yang kita lawan adalah teroris," ujar al-Moualem.

Sejak April lalu, pasukan Pemerintah Suriah telah meningkatkan gempuran ke Idlib. Agresi menyebabkan puluhan orang tewas. Kelompok pemberontak di sana mengatakan tindakan tersebut melanggar pakta deeskalasi yang telah disepakati. 

Sebaliknya, Suriah dan sekutunya, Rusia mengklaim serangan ke Idlib adalah respons dari pelanggaran yang telah dilakukan kelompok pemberontak, termasuk kehadiran militer di zona demiliterisasi.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA