Kamis 20 Jun 2019 11:54 WIB

Xi Jinping Tiba di Korut

Kunjungan tersebut menjadi kunjungan pertama pemimpin Cina dalam 14 tahun.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un berjabat tangan dengan Presiden Cina Xi Jinping di Diaoyutai State Guesthouse di Beijing, Cina pada 27 Maret 2018. Xi mengunjungi Korut, Kamis (20/6).
Foto: Korean Central News Agency/Korea News Service via AP
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un berjabat tangan dengan Presiden Cina Xi Jinping di Diaoyutai State Guesthouse di Beijing, Cina pada 27 Maret 2018. Xi mengunjungi Korut, Kamis (20/6).

REPUBLIKA.CO.ID, PYONGYANG -- Presiden Cina Xi Jinping tiba di Korea Utara (Korut), Kamis (20/6). Kunjungan tersebut menjadi kunjungan pertama pemimpin Cina dalam 14 tahun. Kunjungan ini bersifat tertutup.

Perjalanan Xi melakukan kunjungan kenegaraan sebagai presiden sebelum sepekan nantinya ia akan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump guna membicarakan perdagangan di sela-sela KTT G20 di Jepang. Dilansir di South China Morning Post, Xi ke Pyongyang didampingi oleh istrinya Peng Liyuan dan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi serta diplomat Cina Yang Jiechi.

Baca Juga

Kepala Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Cina, He Lifeng memprediksi pertemuan kedua pemimpin akan menandakan kerja sama ekonomi di antara kedua negara. Dalam menyambut Presiden Cina, Korut mengadakan upacara penyambutan di Bandara Internasional Pyongyang Sunan.

Media pemerintah Korut juga menyambut kunjungan Xi. Surat kabar Rodong Sinmun menuliskan, kedua pemimpin akan semakin memperkuat 'ikatan darah' antara kedua negara asia.

 

"Sahabat, Xi Jinping, mengunjungi negara kami dalam menghadapi tugas-tugas penting karena hubungan internasional yang kompleks, yang jelas menunjukkan partai Cina dan pemerintahan sangat mementingkan persahabatan kedua negara. Persahabatan antara Korut dan Cina tidak dapat dipecahkan," tulis surat kabar itu.

Seorang dosen politik perbandingan di Universitas Cina Hong Kong, James Downes menilai, kedua pihak akan mengonfirmasi kesamaan ideologi politik mereka elama pertemuan. Menurutnya, keuntungan yang dimiliki Cina atas AS dalam bersekutu dengan pemimpin tertinggi Korut Kim Jong-un adalah kesamaan dalam ideologi politik.

"Kim akhirnya harus memihak ke salah satu kekuatan super (dalam hal ini Cina). Sebab sebagian besar pemimpin otokratis takut akan infiltrasi ide-ide demokrasi, memilih AS, yang memiliki rekam jejak mendukung pemberontak di negara-negara berkembang adalah pilihan yang sangat tidak masuk akal bagi Kim," ujar Downes.

Dia menilai hubungan antara Cina dan Korut kemungkinan akan tetap kuat dalam waktu dekat. Tahun ini merupakan peringatan 70 tahun Cina dan Korut membangun hubungan diplomatik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement