Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Diplomat Inggris Kunjungi Iran untuk Turunkan Ketegangan

Ahad 23 Jun 2019 12:51 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Demonstran memegang tulisan 'No War' atau 'Katakan tidak pada Perang' di luar Gedung Putih, Kamis (20/6), setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran membuat kesalahan besar setelah menembak jatuh drone pengintai di Selat Hormuz di Iran.

Demonstran memegang tulisan 'No War' atau 'Katakan tidak pada Perang' di luar Gedung Putih, Kamis (20/6), setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran membuat kesalahan besar setelah menembak jatuh drone pengintai di Selat Hormuz di Iran.

Foto: AP Photo/Jacquelyn Martin
Trump berencana menjatuhkan sanksi baru ke Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Diplomat tinggi Inggris Andrew Murrison akan mengunjungi Iran. Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan kunjungan Menteri Negara untuk Timur Tengah dan Pembangunan Internasional itu untuk menurunkan ketegangan di kawasan.

Baca Juga

"Menyerukan segera menurunkan ketegangan di kawasan dan meningkatkan perhatian Inggris dan internasional atas langkah Iran di kawasan," kata Kementerian Luar Negeri Inggris, Ahad (23/6).

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Senin (24/6) ia akan memberikan sanksi baru kepada Iran karena telah menembak jatuh drone militer AS pada Kamis (20/6). Menurut Trump, sanksi baru itu akan membuat perekonomian Iran kacau.

Ia tidak memberikan penjelasan sanksi apa lagi yang akan dijatuhi kepada Iran. Pada Jumat (21/6) Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan sektor keuangan Iran akan segera dijatuhi sanksi jika tidak bekerja untuk menghentikan pelanggaran pedoman internasional yang dirancangan melawan pencucian uang.

Insiden penembakan drone militer AS meningkatkan krisis yang sudah mencengkram Timur Tengah. Ketengangan ini bermula sejak Trump menarik AS dari kesepakatan Iran 2015 pada tahun lalu dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi kepada Teheran.

Akhir-akhir ini Iran meningkatkan empat kali lipat produksi pengayaan uranumium untuk melanggar salah satu kesepakatan nuklir 2015 pada pekan depan. Mereka juga mengancam pada Juli 7 akan meningkatkan pengayaan uranium sampai ditahapan yang membuat nuklir dapat menjadi senjata jika Eropa tidak menawarkan kesepakatan baru.

Irak memperketat keamanan salah satu pangkalan udara terbesar di negara itu. Tempat di mana para pelatih militer AS dan komandan tinggi Angkatan Udara Irak tinggal. Militer AS mengatakan operasi di pangkalan tersebut berjalan seperti biasa dan tidak ada rencana untuk mengevakuasi personilnya.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA