Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Donald Trump: Saya Akan Jadi Sahabat Iran

Ahad 23 Jun 2019 11:59 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Foto: AP Photo/Susan Walsh
Trump mengaku bisa jadi sahabat Iran bila negara itu tak memiliki senjata nuklir

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan aksi militer ke Iran masih menjadi pilihan. Tapi ditengah memanasnya hubungan AS dan Iran yang menembak drone militer AS tiba-tiba Trump mengatakan ia dapat menjadi sahabat baik Iran. 

"Faktanya kami tidak mendapati Iran memiliki senjata nuklir dan jika mereka setuju dengan itu, mereka akan menjadi negara kaya, mereka akan menjadi bahagia dan saya akan menjadi sahabat," kata Trump di Washington, Ahad (23/6). 

Baca Juga

Nada lembut Trump bertolak belakang dengan pernyataan-pernyataan dia sebelumnya. Baik saat kampanye maupun sudah menjabat sebagai presiden. Termasuk menggunakan sanksi ekonomi sebagai upaya untuk menekan Iran agar mereka tidak membangun senjata nuklir. 

"Saya harap itu terjadi, saya harap itu terjadi, tapi mungkin juga tidak," kata Trump. 

Trump juga mengatakan 'kami sangat mengapresiasi' Garda Revolusi Iran memilih tidak menyerang pesawat mata-mata AS yang membawa lebih dari 30 orang. Kemudian Trump mengatakan Iran akan diberi sanksi baru pada hari Senin (24/6) mendatang. 

Langkah AS pada pekan lalu juga bertolak belakang dengan nada optimistik Trump. Pasukan Siber militer AS melancarkan serangan terhadap sistem komputer Iran pada hari Kamis lalu. Serangan ini sebagai tanggapan atas penembakan drone mereka. 

Pejabat AS mengatakan serangan siber itu mematikan sistem komputer Iran yang mengkontrol peluncuran roket dan misil. Pejabat tersebut menambahkan Trump memberikan otoritas atas serangan siber itu. 

Satu hari setelah ia mengatakan 'sulit percaya' penembakan drone AS dilakukan dengan sengaja, Trump melakukan hal sebaliknya dan menuduh Iran 'secara sadar' menyerang pesawat tak berawak itu. Ia juga mengulang kembali pernyataannya ia menarik rencana serangan udara setelah tahu serangan tersebut dapat menewaskan 150 orang. 

"Semua orang bilang saja penjual perang, dan sekarang mereka mengatakan saya merpati, dan saya pikir saya bukan keduanya, jika Anda ingin tahu kebenarannya, saya orang yang berakal sehat, dan itu yang kami butuhkan di negeri ini, akal sehat, tapi saya tidak suka dengan ide mereka mereka menembak pesawat tanpa awak dengan sadar dan kami membunuh 150 orang," kata Trump. 

"Saya tidak ingin membunuh 150 orang Iran, saya tidak ingin membunuh 150 orang atas apa pun atau siapa pun kecuali jika benar-benar diperlukan," tambah Trump.

Nada lembut Trump ini ia katakan setelah Iran memanggil utusan Uni Emirat Arab ke Teheran. Kantor berita Iran IRNA melaporkan Teheran protes atas keputusan negara tetangganya itu mengizinkan As menggunakan salah satu pangkalan militer mereka untuk meluncurkan drone yang menurut Iran telah masuk ke ruang udara mereka. 

IRNA melaporkan Iran mengeluarkan 'protes keras' ke diplomat Uni Emirat Arab. Teheran mengatakan mereka tidak akan menoleransi bantuan ke negara asing yang melanggar wilayah mereka. 

Sementara itu AS berpendapat drone RQ-4A Global Hawk ditembak jatuh di perairan internasional Selat Hormuz. Tidak di dalam ruang udara Iran. 

Penembakan ini menandai pertama kalinya Garda Revolusi Iran menyerang secara langsung ke aset militer AS. Tepat ketika ketegangan atas kesepakatan nuklir Iran dengan kekuatan-kekuatan global semakin meningkat.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA