Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Cina akan Tentang Proteksionisme di KTT G-20

Senin 24 Jun 2019 21:10 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Dwi Murdaningsih

Sebuah truk melintas di depan kontainer produk asal Cina di Pelabuhan Savannah, Georgia, Amerika Serikat. Ketegangan antara AS dan Cina telah mendorong Presiden Donald Trump meningkatkan tarif impor barang Cina.

Sebuah truk melintas di depan kontainer produk asal Cina di Pelabuhan Savannah, Georgia, Amerika Serikat. Ketegangan antara AS dan Cina telah mendorong Presiden Donald Trump meningkatkan tarif impor barang Cina.

Foto: AP Photo/Stephen B. Morton
Cina beranggapan proteksionisme berdampak terhadap tatanan ekonomi internasional.

REPUBLIKA.CO.ID,BEIJING -- Pemerintah cina akan menyuarakan penentangan terhadap proteksionisme dan unilateralisme saat menghadiri ktt g-20 di Osaka, Jepang, pada 28 Juni mendatang. Sebagai gantinya, Beijing siap bekerja sama dengan pihak-pihak yang relevan untuk menegakkan multilateralisme.

“Ini menunjukkann bahwa Cina sangat mementingkan kerja sama G-20 dan tata kelola ekonomi global,” ujar Asisten Menteri Luar Negeri Cina Zhang Jun dalam sebuauh konferensi pers pada Senin (24/6), dilaporkan Xinhua.

Menurut dia, unilateralisme dan proteksionisme berdampak serius terhadap tatanan ekonomi internasional. Hal ini mengingat dunia sedang menghadapi risiko dan ketidakpastian yang meningkat. Oleh sebab itu, Cina berkomitmen untuk memperjuangkan hasil positif dalam KTT G-20 di Jepang.

“Kami siap bekerja dengan semua pihak untuk melindungi multilateralisme, melindungi tatanan internasional berdasarkan hukum internasional, dan menjaga keadilan internasional,” ujar Zhang.

Ia mengatakan, Jepang dan negara anggota G-20 lainnya sangat menantikan paritisipasi Presiden Cina Xi Jinping. Selama KTT di Osaka, Xi dijadwalkan menghadiri berbagai diskusi. Topik yang dibahas beragam, antara lain ekonomi dunia dan perdagangan, ekonomi digital, infrastruktur, iklim, energi, hingga lingkungan.

Xi juga diharapkan melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Mereka akan mendiskusikan tentang perselisihan perdagangan antara kedua negara.

Banyak pihak yang mengharapkan Xi dan Trump dapat menyelesaikan masalah tersebut. Sebagai dua negara kekuatan ekonomi dunia, pertikaian antara keduanya kerap dikhawatirkan menimbulkan dampak global.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA