Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Taliban Dikecam karena Ancam Media di Afghanistan

Rabu 26 Jun 2019 00:01 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi Kelompok Taliban

Ilustrasi Kelompok Taliban

Foto: Foto : MgRol112
Taliban menargetkan wartawan dan karyawan perusahaan media.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Amerika Serikat (AS) dan Afghanistan mengecam peringatan Taliban yang akan menyerang media Afghanistan karena menyiarkan pernyataan anti-Taliban. Kantor Kepresidenan Afghanistan, Ashraf Ghani mengutuk kecaman kelompok Taliban, yang sebelumnya telah menargetkan wartawan dan karyawan perusahaan media.

"Kebebasan berekspresi dan menyerang organisasi media bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan Islam," kata Kantor Kepresidenan dalam sebuah pernyataan, Selasa (25/6).

Ancaman itu muncul ketika para pemimpin Taliban tengah bersiap untuk perundingan damai putaran ketujuh dengan para pejabat AS. Perundingan tersebut bertujuan menemukan jalan keluar penyelesaian politik untuk mengakhiri perang 18 tahun di Afghanistan.

Putaran pembicaraan berikutnya dijadwalkan akan dimulai pada 29 Juni di Doha. Duta Besar AS untuk Afghanistan John Bass mengatakan Taliban harus berhenti mengancam wartawan Afghanistan.

"Lebih banyak kekerasan terhadap jurnalis atau warga sipil tidak akan membawa keamanan dan peluang ke Afghanistan, juga tidak akan membantu Taliban mencapai tujuan politik mereka," kata Bass di Twitter-nya.

Pada Senin (24/6) lalu, Taliban menyatakan stasiun radio, saluran televisi, dan organisasi media lainnya memiliki waktu satu pekan untuk menghentikan siaran iklan anti-Taliban. Committee to Protect Journalists (CPJ) menyatakan, Afghanistan merupakan negara yang paling mematikan bagi jurnalis.

Baca Juga

Pada 2018, CPJ mencatat terdapat 13 kematian yang diaami oleh jurnalis. Sementara, Federasi Jurnalis Internasional menyatakan 16 wartawan meninggal dunia tahun lalu.

Kehadiran media internasional di Afghanistan berkurang tajam sejak penarikan pasukan internasional pada 2014. Kemudian, pada 2016 seorang anggota Taliban melakukan aksi bom bunuh diri dengan menabrakkan mobilnya ke dalam bus yang membawa karyawan Tolo TV dan menewaskan tujuh wartawan.

Tolo TV merupakan saluran televisi terbesar di Afghanistan. Taliban mengatakan, mereka membunuh para karyawan membuat propaganda yang mendukung pendudukan Afghanistan oleh AS dan sekutunya dalam perang mereka melawan pemberontak.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA