Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Presiden Sri Lanka Kritik Investigasi Parlemen atas Bom

Sabtu 08 Jun 2019 13:17 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena (kiri) dan Perdana Menteri Sri Lanka  Ranil Wickremesinghe pada 3 Oktober 2017.

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena (kiri) dan Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe pada 3 Oktober 2017.

Foto: AP Photo/Eranga Jayawardena
Presiden Sri Lanka menilai Parlemen tak memberikan kepercayaan.

REPUBLIKA.CO.ID, KOLOMBO— Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena, pada Jumat (8/6), mengkritik penyelidikan kasus pengeboman Minggu Paskah oleh parlemen, sehari setelah testimony oleh dua sosok penting yang menuduhnya tidak becus menangani keamanan nasional negara.

Baca Juga

Serangan 21 April yang diklaim ISIS menewaskan lebih dari 250 orang meskipun Badan Intelijen India berulangkali telah memperingatkan pihak berwenang Sri Lanka bahwa ada komplotan yang sedang merencanakan serangan.

Komisi Pemilihan Parlemen, yang dipimpin sekutu rival Perdana Menteri Sirisena, Ranil Wickremesinghe, sedang mendalami serangan guna mengindentifikasi kemungkinan penyimpangan yang membuat militan garis keras menargetkan sejumlah hotel dan gereja.

Pada Kamis (7/6), Inspektur Jenderal Kepolisian Pujith Jayasundara di hadapan parlemen mengatakan  Sirisena memintanya bertanggung jawab atas serentetan pengeboman. Dia pun diminta mundur. 

Namun, Jayasundara menolak meninggalkan jabatannya meskipun dijanjikan jabatan diplomatik sebagai imbalan.

Mantan menteri pertahanan Sri Lanka, Hemasiri Fernando juga memberikan kesaksian pada Kamis, dengan mengatakan presiden menginstruksikan agar Wickremesinghe didepak dari pertemuan dewan keamanan.

Sirisena belum membahas tuduhan tersebut secara terbuka. Juru bicara pun tidak menanggapi permintaan untuk diminta berkomentar tentang mereka.

Pada Jumat, Sirisena mengatakan kepada pejabat kepolisian bahwa dia menentang penyelidikan tersebut.

"Saya tidak menerima komisi pemilihan dan saya tidak akan mengirim anak buah saya untuk komisi tersebut," kata dia sebelum menggelar rapat darurat kabinet pada Jumat malam. 

 

sumber : Reuters/Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA