Sabtu, 16 Zulhijjah 1440 / 17 Agustus 2019

Sabtu, 16 Zulhijjah 1440 / 17 Agustus 2019

Foto Migran Tenggelam Bukti Kegagalan Tangani Keputusasaan

Kamis 27 Jun 2019 11:57 WIB

Red: Ani Nursalikah

Jenazah imigran El Salvador, Oscar Alberto Martinez Ramirez (25 tahun) dan putrinya Angie Valeria Martinez (23 bulan) tiba di rumah duka di Matamoros, negara bagian Tamaulipa, Meksiko, Rabu (26/6). Keduanya meninggal ketika menyeberangi sungai menuju AS.

Jenazah imigran El Salvador, Oscar Alberto Martinez Ramirez (25 tahun) dan putrinya Angie Valeria Martinez (23 bulan) tiba di rumah duka di Matamoros, negara bagian Tamaulipa, Meksiko, Rabu (26/6). Keduanya meninggal ketika menyeberangi sungai menuju AS.

Foto: AP Photo/Rebecca Blackwell
Kekecewaan mendorong migran melakukan perjalanan menempuh bahaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Sebuah foto seorang lelaki dan putrinya, yang masih kecil, yang tenggelam hingga tewas di perbatasan AS-Mexico, melambangkan kegagalan menangani keputusasaan. "UNHCR sangat terkejut melihat foto yang menyayat hati mengenai mayat Oscar Alberto Martines Ramirez dan putrinya yang berusia 23 bulan, Valeria dari El-Salvador yang hanyut ke pantai Rio Grande," katanya di dalam satu pernyataan, Rabu (26/6).

Gambar tersebut, yang disiarkan luas di media sosial, memperlihatkan wajah kedua orang itu menghadap ke bawah di alang-alang di tepi sungai. Ia kelihatanya merobek kausnya untuk membuat gendongan bayi sementara dan kepala mereka saling bertempelan.

Baca Juga

Celana anak perempuan itu melembung gara-gara popok. Komsaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi Filippo Grandi mengatakan mereka bersabung nyawa sebab mereka tak memperoleh perlindungan yang mestinya mereka terima berdasarkan hukum internasional.

"Kematian Oscar dan Valeria merupakan kegagalan menangani kerusuhan dan kekecewaan yang mendorong orang melakukan perjalanan menempuh bahaya demi memperoleh kehidupan yang aman dan bermartabat," kata Grandi di dalam satu pernyataan.

UNHCR membandingkannya dengan gambar yang menjadi ikon mengenai bayi pengungsi Suriah, Alan Kurdi, yang hanyut ke pantai Laut Tengah pada 2015. Alan Kurdi adalah bagian dari gelombang pengungsi Suriah yang membuat panik di Eropa. Akibatnya, Turki secara efektif menutup jalur pengungsi melalui Yunani atas permintaan Uni Eropa.

Sejak itu, banyak negara telah memasang penghalang buat migran dan sebagian, seperti Uni Eropa serta Amerika Serikat. Mereka menekan negara tetangga mereka agar mengurangi jumlah orang yang berusaha melakukan perjalanan.

Presiden AS Donald Trump mengancam Mexico dengan tarif perdagangan sampai negara tersebut setuju membantu mengurangi jumlah migran, dan lonjakan yang telah memenuhi instalasi perbatasan AS. Pengacara imigrasi mengatakan anak-anak ditahan selama berpekan-pekan tanpa kesehatan atau makanan yang memadai.

Lembaga US Customs and Border Protection pada Selasa mengatakan penjabat komisarisnya mundur, sementara Gedung Putih mengesahkan paket dana 4,5 miliar dolar AS buat program penampungan, pemberian makan dan pengawasan keluarga Amerika Tengah yang meminta suaka. Banyak ahli mengenai migran mengatakan diperketatnya pengawasan malah menyulut migrasi gelap dan membuat mereka mencari jalur baru.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA