Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Ini Lima Isu Utama yang Dibahas di KTT G20

Kamis 27 Jun 2019 21:53 WIB

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Gita Amanda

Perang dagang AS dengan Cina

Perang dagang AS dengan Cina

Foto: republika
G20 akan mengadopsi langkah-langkah mengurangi limbah plastik di laut.

REPUBLIKA.CO.ID, OSAKA -- Para pemimpin dunia akan tiba di Osaka, Jepang untuk melakukan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ekonomi Kelompok 30 (G20) pada Jumat (28/6), dan Sabtu (29/6) besok. Diprediksi, lima masalah utama dunia akan mendominasi pembicaraan pertemuan yang dipandu oleh tuan rumah Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe.

Dilansir Reuters, berikut kelima isu yang akan dibahas:

1. "Gencetan Senjata" Trump dan Xi
Mengungguli tema pertemuan G20, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping akan bertemu pada Sabtu di tengah harapan untuk terobosan baru dalam perang perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia.

Media Cina South China Morning Post mengutip sumber-sumber penting melaporkan, AS dan Cina menyetujui gencatan senjata sementara dalam perselisihan yang hampir setahun sebelum pertemuan Osaka.

Sebelum meninggalkan AS, Rabu (26/6), Trump mengatakan kesepakatan perdagangan mungkin saja dilakukan akhir pekan ini. Meski ia mengatakan, masih siap untuk mengenakan tarif pada hampir semua impor Cina yang belum dikenakan pungutan AS, jika kedua negara terus tidak setuju demgan kesepaktan dagang.

2. Ekonomi Global
Pembuat kebijakan ekonomi berada dalam ikatan ketika pertumbuhan global melambat karena ketegangan perdagangan. Hal tersebut ditandai dengan Federal Reserve AS yang mengisyaratkan akan memangkas suku bunga.

Hal itu melemahkan dolar dan memberikan tekanan pada Bank Sentral Eropa dan Bank Jepang untuk menemukan cara menjaga mata uang mereka dari kenaikan. Kenaikan itu juga akan merusak ekonomi mereka yang bergantung pada ekspor.

Abe pun berharap untuk mendapatkan kesempatan membicarakan perdagangan bebas dalam pernyataan resmi pada penutupan pertemuan. Meski ia harus menghadapi perlawanan dari Trump, yang tahun lalu memaksa G20 untuk membatalkan janjinya untuk menghindari proteksionisme.

3. Perubahan Iklim
Perselisihan soal pemanasan global terus berlanjut. Para negosiator AS menentang dorongan yang dipimpin Eropa untuk komitmen yang kuat memerangi perubahan iklim.

Draf terbaru G20 tentang perubahan iklim, membangkitkan kembali dukungan untuk Perjanjian Paris 2015, dengan menyebutnya tidak dapat diubah. Sebuah rancangan sebelumnya telah menghindari komitmen itu atas desakan AS.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, Prancis tidak akan menerima pernyataan resmi G20 yang tidak menyebutkan perjanjian Paris. Trump, yang menyebut pemanasan global sebagai "tipuan", menarik AS keluar dari pakta iklim pada 2017.

4. Iran dan minyak
Meskipun Iran bukan anggota G20, negara itu akan sangat bersemangat karena ancaman perang dengan AS menjulang setelah serangkaian insiden di Teluk.

Trump pada menit terakhir menghentikan serangan udara ke Iran minggu lalu sebagai pembalasan atas jatuhnya pesawat tak berawak AS. Sejak itu, ia telah memperkuat sanksi terhadap Iran dan mengancamnya dengan penghapusan. Iran membalas mengatakan sanksi itu "terbelakang mental".

Selain ketegangan Teluk, pasar minyak gelisah tentang tenggat waktu yang akan datang bagi OPEC untuk memutuskan apakah akan memperpanjang pengurangan produksi. Hal itu pun bisa menjadi fokus pertemuan Osaka antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

5. Sampah Laut
Satu agenda G20 di mana Abe dapat membuat kemajuan adalah mengurangi sampah plastik di lautan, meskipun target spesifik dan komitmen perusahaan untuk bertindak dinilai tidak memungkinkan.

G20 akan mengadopsi kerangka kerja implementasi baru untuk langkah-langkah mengurangi limbah plastik di laut, meskipun atas dasar sukarela.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA