Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Soal Nuklir Iran, Trump: Tak Perlu Buru-Buru

Jumat 28 Jun 2019 11:26 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Donald Trump

Donald Trump

Foto: EPA-EFE/NEIL HALL
Iran akan memproduksi uranium yang diperkaya diluar batas kesepakatan nuklir.

REPUBLIKA.CO.ID, OSAKA -- Para diplomat mengatakan dalam beberapa hari ke depan Iran berada di ambang batas melanggar kesepakatan nuklir 2015. Tapi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang meningkatkan tekanan ke negara Timur Tengah itu mengatakan tidak ada batas waktu dalam isu tersebut.

Kemungkinan Iran melanggar kesepakatan nuklir 2015 terjadi satu pekan setelah Trump membatalkan serangan ke Iran, menciptakan urgensi diplomatik untuk memecahkan krisis tersebut.  Iran menetapkan Kamis (27/6) lalu sebagai tenggat waktu mereka memenuhi kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani bersama kekuatan dunia dan AS di bawah pemerintahan Barack Obama.

Baca Juga

Iran akan memproduksi uranium yang diperkaya (enriched uranium) diluar batas yang ditetapkan kesepakatan nuklir. Mengutip inspektor PBB, para diplomat mengatakan sejauh ini Iran belum akan melampaui batas persediaan uranium yang telah diizinkan. Tapi ada kemungkinan hal itu dapat terjadi dalam beberapa hari kedepan.

"Kami masih memiliki banyak waktu, tidak perlu buru-buru, mereka dapat menggunakan waktu mereka, tidak ada tekanan waktu, saya pikir pada akhirnya, harapannya, akan berjalan baik, jika itu terjadi, maka bagus dan jika tidak, Anda akan mendengar tentang hal itu," kata Trump di sela pertemuannya dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di pertemuan G-20 di Osaka, Jepang, Jumat (28/6). 

Pemimpin-pemimpin negara lain yang hadir di Osaka mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang Iran. Tapi Trump sangat tenang menghadapi isu tersebut.

Presiden China Xi Jinping mengatakan kawasan Teluk berada di persimpangan antara perang dan perdamaian. Ia meminta semua pihak tenang, menahan diri, serta menggelar pembicaraan untuk menemukan solusi dalam isu tersebut.

"China selalu berada disisi perdamaian dan menentang perang, semua pihak harus tetap tenang dan menahan diri, memperkuat dialog dan konsultasi, dan bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan," kata Xi seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Presiden Dewan Uni Eropa Donald Tusk yang  hadir dalam pertemuan G-20 juga mengungkapkan kekhawatirannya Iran akan melanggar kesepakatan nuklir 2015. Ia mengatakan Uni Eropa akan terus mengawasi kepatuhan Teheran terhadap kesepakatan itu.

"Kami mendesak Iran untuk terus memenuhi seluruh komitmen yang berada dibawah kesepakatan nuklir, dan kami akan menanggapi dengan serius segala kemungkinan pelanggaran komitmen tersebut, mempertahankan kesepakatan nuklir adalah kepentingan kawasan dan keamanan internasional," kata Tusk.

Utusan AS untuk Iran Brian Hook bertemu dengan pejabat Uni Eropa di Paris pada Kamis kemarin. Mereka membahas apa yang ia sebut sebagai 'surat ancaman nuklir' Iran.

Prancis sebagai salah satu negara yang berada ditengah perseteruan AS dan Iran meminta Trump untuk menangguh beberapa sanksi terhadap Iran. Penangguhan ini dilakukan agar adanya ruang negosiasi demi menurunkan ketegangan di Teluk.

"Saya ingin menyakinkan Trump kepentingannya membuka kembali proses negosiasi (dan) kembali pada sanksi-sanks tertentu akan memberikan kesempatan negosiasi," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA