Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Perancis Capai Suhu 45 Derajat Celcius

Sabtu 29 Jun 2019 04:07 WIB

Rep: Haura Hafizhah / Bambang Noroyono/ Red: Esthi Maharani

Warga mendinginkan diri di kolam air mancur Trocadero dengan latar belakang menara Eiffel di Paris, Prancis, Selasa (25/6). Gelombang panas menerjang Eropa. Suhu 45 derajat Celsius diperkirakan terjadi di Prancis.

Warga mendinginkan diri di kolam air mancur Trocadero dengan latar belakang menara Eiffel di Paris, Prancis, Selasa (25/6). Gelombang panas menerjang Eropa. Suhu 45 derajat Celsius diperkirakan terjadi di Prancis.

Foto: AP Photo/Alessandra Tarantino
Bagian selatan Prancis diperkirakan menadi wilayah yang paling panas

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Perancis telah mencapai suhu tertinggi yang tercatat mencapai 45.1 derajat celcius (113.2F) di tengah gelombang panas di Eropa yang telah merenggut beberapa nyawa. Rekor sebelumnya adalah 44.1 derajat celcius selama gelombang panas pada tahun 2003 yang menewaskan ribuan orang.

Menteri Kesehatan Agnes Buzyn mengatakan semua orang berisiko terkena gelombang panas. Layanan cuaca Prancis telah mengeluarkan peringatan merah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk empat area. Mayoritas peringatan itu ada di Prancis bagian selatan.

"Jerman, Prancis, Polandia, dan Republik Ceko semuanya mencatat suhu Juni tertinggi. Di Spanyol, petugas pemadam kebakaran berjuang melawan kebakaran hutan Catalonia yang terburuk dalam 20 tahun terakhir.  Delapan provinsi siaga merah sementara suhu diperkirakan akan meningkat di atas 42 celcius derajat di banyak daerah," dikutip dari BBC.Com, Sabtu (29/6).

Sementara itu, Ahli meteorologi mengatakan udara panas itu disebabkan oleh tekanan tinggi di Eropa tengah dan badai melanda Atlantik. Di Prancis selatan, wilayah Gard, Vaucluse, Hérault dan Bouches-du-Rhône diperkirakan akan mengalami suhu antara 42 derajat celcius dan 45 derajat celcius.

Pemerintah Perancis telah meningkatkan pembatasan penggunaan air untuk memerangi dampak gelombang panas sedangkan 4.000 sekolah sekarang ditutup atau memiliki langkah-langkah khusus untuk menyambut siswa.

Lembaga klimatologi  di Potsdam, Jerman, mengatakan lima musim panas terpanas di Eropa sejak 1500 semuanya berada di abad ke-21. Para ilmuwan khawatir pemanasan cepat yang terkait dengan penggunaan bahan bakar fosil memiliki implikasi serius bagi stabilitas iklim planet ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA