Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Bertemu MBS, Theresa May Singgung Kematian Khashoggi

Ahad 30 Jun 2019 00:25 WIB

Rep: Muhammad Riza Wahyu Pratama/ Red: Andri Saubani

Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Foto: AP Photo/Kirsty Wigglesworth
May bertemu Pangeran Muhammad bin Salman di pertemuan G20 Osaka, Jepang.

REPUBLIKA.CO.ID, OSAKA -- Perdana Menteri Inggris Theresa May menyampaikan perihal pembunuhan wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Selain itu, ia juga menyinggung biaya kemanusiaan dalam konflik Yaman. Pernyataan May itu disampaikan saat bertemu dengan Pangeran Saudi Muhammad bin Salman (MBS) dalam pertemuan G20 di Osaka, Jepang.

Kehadiran May dalam Pertemuan G20 adalah acara terakhir. May akan meletakkan jabatan sebagai Perdana Menteri Inggris pada Juli mendatang, sebagaimana dilansir The Guardian, Sabtu (29/6).

Seorang pejabat senior mengatakan, May menyerukan proses terbuka atas pembunuhan Khashoggi di Turki. Dalam kesempatan yang sama, May juga menyinggung soal pentingnya relasi antara Inggris dan Arab Saudi.

“Terkait pertanggungjawaban atas pembunuhan Jamal Khashoggi. Perdana Menteri mengatakan, dibutuhkan proses hukum terbuka dan transparan. Keduanya (May dan Muhammad bin Salman) sepakat akan pentingnya relasi dan stabilitas regional," kata seorang pejabat senior.

Khashoggi dibunuh secara brutal di Konsulat Saudi yang berada di Istanbul, Turki pada Oktober 2018. Pemerintah Arab Saudi menyatakan, pembunuhan tersebut sebagai operasi jahat. Saudi juga telah menangkap beberapa orang yang diadili secara tertutup.

Sementara itu, laporan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menemukan, Khashoggi dibunuh secara sengaja dan terencana. Hal itu termasuk ke dalam pembunuhan ekstra-yudisial di mana menjadi tanggung jawab Arab Saudi.

Sedangkan terkait dengan konflik Yaman, May menegaskan, perlunya kerja sama dalam mengeluarkan solusi politik untuk mengakhirinya. Konflik tersebut telah menyebabkan bencana kemanusian yang serius.

Sebelumnya, pada awal bulan lalu, ekspor senjata Inggris ke Arab Saudi telah dinyatakan ilegal oleh pengadilan. Hal itu disebabkan oleh kegagalan pemerintah dalam menghindari dampak kemanusiaan atas senjata tersebut digunakan di Yaman.

Keputusan tersebut disampaikan oleh hakim Master of the Rolls, Sir Terence Etherton. Ia mengatakan, para menteri tidak berhasil mengambil keputusan apakah Arab Saudi memimpin operasi yang mencederai hukum humaniter internasional di masa lalu. Atau setidaknya dalam konflik Yaman. Para menteri juga tidak menunjukkan usaha mencapai kesimpulan tersebut.

Dalam kasus ekspor senjata, Sekretaris Bidang Perdagangan Internasional Inggris Liam Fox mengatakan, pemerintah akan mengajukan banding atas keputusan tersebut. Kemudian, terkait konflik Yaman, PBB telah menyeru, konflik tersebut adalah krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Diperkirakan pada Februari lalu, sekitar 17 ribu orang telah terbunuh. Sedangkan 3,3 juta lainnya terlantar.

Sikap May saat bertemu Pangeran Arab Saudi terlihat hangat. Hal itu berkebalikan dengan sikap May saat bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, Jumat (28/6). Saat itu May menyinggung kasus racun di Salisbury. May menyatakan, kasus itu merupakan tindakan yang benar-benar tercela.

May juga mengatakan kepada Putin, ia akan tetap mempertahankan nilai-nilai liberal. Hal itu dinyatakan setelah Putin memberikan pernyataan kepada Financial Times. Ia mengatakan, liberalisme telah usang. Putin juga menyoroti kasus keracunan mantan mata-mata Rusia yang berada di Inggris, Sergei Skripal.

"Dengar, semua keributan ini terkait soal intelijen dan kontra-intelijen. Hal itu bukanlah masalah antar negara yang serius. Kasus mata-mata (Skripal), sebagaimana kami nyatakan, hal itu tidak lebih dari lima kopeks (koin lama Rusia), atau bahkan tak lebih dari 5 poundsterling," kata Putin.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA