Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Palestina Tangkap Pengusaha yang Hadiri Konferensi Bahrain

Ahad 30 Jun 2019 09:05 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Budi Raharjo

Seorang warga Palestina membakar foto Presiden AS Donald Trump dan Raja Hamad al-Khalifa dari Bahrain dalam protes menentang rencana ekonomi AS di Bahrain di desa Halhuldekat, Hebron, Tepi Barat, Palestina, Senin (24/6).

Seorang warga Palestina membakar foto Presiden AS Donald Trump dan Raja Hamad al-Khalifa dari Bahrain dalam protes menentang rencana ekonomi AS di Bahrain di desa Halhuldekat, Hebron, Tepi Barat, Palestina, Senin (24/6).

Foto: AP Photo/Majdi Mohammed
Para pejabat Palestina menjaga kerahasiaan resmi tentang penangkapan itu.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Sekitar belasan pengusaha asal Palestina menentang boikot resmi Palestina terhadap konferensi ekonomi Amerika Serikat (AS) di Bahrain pekan ini. Tetapi petugas Dinas Intelijen Umum Otoritas Otoritas Palestina menangkap peserta yang datang ke Konferensi Bahrain.

Sesampai di Manama, Bahrain, sebagian besar dari pengusaha tetap mencoba untuk menjaga profil dan nama mereka keluar dari media. Menurut dua pejabat Palestina dan pemimpin delegasi bisnis Palestina ke Bahrain, Ashraf Jabari, Otoritas Palestina menangkap salah satu dari mereka, Saleh Abu Mayala, pada Jumat (28/6) malam ketika ia berjalan dari mobilnya ke rumahnya di kota Hebron, Tepi Barat.

Dilansir dari New York Times Ahad (30/6), Delegasi telah kembali ke Tepi Barat pada Kamis. Para pejabat Palestina telah menjaga kerahasiaan resmi tentang penangkapan itu, dan belum jelas perihal Mayala telah didakwa secara resmi. Akan tetapi seorang pejabat Palestina menyebut kehadirannya di konferensi itu sebagai tindakan pengkhianatan ilegal.

Petugas intelijen memanggil peserta konferensi lain, Ashraf Ghanem, juga dari Hebron, melalui telepon pada Jumat malam, setelah mereka tidak menemukannya di rumah. Ghanem berlindung pada Sabtu di rumah Jabari, di bagian Hebron yang dikontrol Israel, sebuah area di mana pasukan keamanan Otoritas Palestina tidak dapat beroperasi tanpa koordinasi sebelumnya dengan Israel.

Seorang pejabat keamanan Palestina, berbicara dengan syarat anonim mengatakan partisipasi pengusaha Palestina dalam konferensi itu sama dengan pengkhianatan. Dalam hukum Palestina mereka akan memberikan ganjaran bagi mereka yang mengkhianati tanah airnya. Setelah kepemimpinan Palestina memutuskan untuk memboikot acara tersebut, partisipasi bukanlah pilihan atau masalah kebebasan individu.

Seorang pejabat pemerintah kedua, juga berbicara dengan syarat anonim, mengonfirmasi penangkapan tersebut. Dia mengatakan telah ada tekanan publik pada Otoritas untuk mengadili yang menghadiri konferensi.

Dihubungi melalui telepon, menteri informasi Otoritas Palestina, Nabil Abu Rudeineh mengatakan ia tidak mengetahui tentang penangkapan Abu Mayala.

Pemerintahan Presiden AS, Donald Trump mengatakan konferensi itu dimaksudkan untuk mendorong investasi lebih dari 50 miliar dolar Ameria. Ini untuk memulai ekonomi Palestina dan membantu negara-negara Arab tetangga dalam membantu membangun fondasi bagi perdamaian di masa depan.

Tetapi kepemimpinan Palestina memutuskan hubungan diplomatik dengan pemerintahan Trump setelah mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel pada akhir 2017, dan memindahkan kedutaan Amerika dari Tel Aviv ke kota suci yang diperebutkan. Pendirian Palestina menolak gagasan menempatkan ekonomi di atas solusi politik, khawatir mereka bisa dianggap telah menjual aspirasi nasional mereka.

Para pemimpin bisnis terkemuka Palestina menjauh dari konferensi Bahrain. Jabari, yang melakukan perjalanan ke Bahrain secara terbuka, adalah satu-satunya pembicara Palestina dalam agenda tersebut. Dia mengatakan dalam sebuah wawancara telepon Sabtu bahwa delegasi itu terdiri dari 13 warga Palestina dari kota-kota Hebron, Betlehem, Ramallah dan Jenin di Tepi Barat dan dari Yerusalem Timur.

Ia mengatakan, Otoritas telah salah paham pada tujuan konferensi. Ia menggambarkannya sebagai visi ekonomi untuk periode setelah perjanjian perdamaian dicapai antara Israel dan Palestina. Tidak ada politik yang dibahas di sana, dan ia bersikeras tidak melanggar hukum Palestina.

Adapun Jabari merupakan tokoh kontroversial di kalangan warga Palestina. Dia telah menjalin hubungan dengan pemukim Yahudi, membantu membentuk kamar dagang di mana bisnis Palestina dan pemukim bekerja sama.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA