Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Trump Jadi Presiden AS Pertama Masuk ke Korut

Senin 01 Jul 2019 01:19 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Bayu Hermawan

Presiden AS Donald Trump

Presiden AS Donald Trump

Foto: Evan Vucci/AP
Donald Trump jadi Presiden Amerika Serikat pertama yang masuk ke wilayah Korea Utara.

REPUBLIKA.CO.ID, Korea Utara -- Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat pertama yang masuk ke wilayah Korea Utara. Trump menginjakkan kaki di garis demarkasi untuk berjabatan tangan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada Ahad (30/6) kemarin. Trump hadir atas undangan Kim sebagai tindak lanjut konferensi tingkat tinggi (KTT) antara Kim-Trump.

Baca Juga

"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, itu pemberitahuan yang sangat cepat dan saya hanya ingin mengucapkan terima kasih," kata Trump saat berhadapan dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un yang dilansir dari ABC News, Senin (1/7).

"Senang bertemu denganmu lagi, aku tidak pernah berharap melihatmu di tempat ini," kata Kim ketika mereka berjabat tangan.

Trump menyebut pertemuan itu sebagai sebuah kehormatan besar baginya karena telah diizinkan melintasi langsung wilayah perbatasan Korea Utara. Setelah berjabat tangan, kedua pemimpin negara itu melakukan pertemuan bilateral di gedung terdekat.

Setelah Trump dan Kim bertemu selama lebih dari 40 menit, mereka muncul bersama dari Freedom House bersama dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae In dan berjalan berdampingan kembali ke garis demarkasi, di mana Trump dan Moon mengucapkan selamat tinggal pada Kim.

Saat kembali ke dalam Freedom House, Trump menyatakan pertemuan hari itu adalah pertemuan yang hebat dan legendaris. Dia mengatakan, mereka sepakat untuk merumuskan tim untuk memulai kembali negosiasi aktif untuk perjanjian komprehensif. Trump mengatakan Steve Biegun, perwakilan khusus AS untuk Korea Utara, akan memimpin sisi A.S dalam tim tersebut. Trump juga mengatakan bahwa dia akan mengundang Kim untuk mengunjunginya di Gedung Putih.

"Kami baru saja mengadakan pertemuan yang sangat, sangat baik dengan Ketua Kim dan kami telah sepakat bahwa kami akan menunjuk tim, dan tim akan mencoba dan menyelesaikan beberapa kesepakatan, dan sekali lagi kecepatan bukanlah objeknya, kami ingin lihat apakah kita dapat melakukan banyak hal yang benar-benar komprehensif," kata Trump.

"Tidak ada yang tahu bagaimana keadaannya, tetapi tentu saja ini adalah hari yang hebat. Ini adalah hari yang sangat legendaris, sangat bersejarah. Dan akan lebih bersejarah jika terjadi sesuatu, sesuatu yang sangat penting, tetapi banyak yang telah terjadi," lanjut Trump, menunjuk pada hubungan yang telah dibangun melalui keterlibatan langsung dengan Korea Utara.

Trump juga mengucapkan terima kasih kepada Kim Jong Un karena mengizinkannya untuk bertemu langsung di wilayah perbatasan. "Merupakan suatu kehormatan bahwa Anda meminta saya untuk melangkahi garis itu, dan saya bangga melangkahi garis itu. Saya pikir Anda mungkin melakukan itu, saya tidak yakin, tetapi saya siap untuk melakukannya, dan saya ingin terima kasih, itu hebat, sangat bersejarah, "kata Trump.

Trump tiba di zona demiliterisasi Korea (DMZ) tepat sebelum pukul 2 pagi waktu setempat. Sebelum bertemu Kim, Trump sempat mengunjungi menara observasi, melihat wilayah Utara yang terpencil, serta singgah ke beberapa tempat. Trump bertemu dengan Kim di Panmunjeom, yang disebut Desa Perdamaian, di perbatasan antara kedua negara. Pertemuan ini secara langsung menobatkan Trump sebagai presiden pertama yang berhasil mengunjungi Korea Utara.

Trump juga mengklaim bahwa mantan Presiden Barack Obama berusaha untuk bertemu dengan Kim namun dia ditolak. "Pemerintahan Obama memohon untuk pertemuan, ada yang memohon untuk pertemuan terus-menerus, dan Ketua Kim tidak akan bertemu dengannya," klaim Trump.

Presiden terus menyatakan optimisme tentang keadaan hubungan dengan Korea Utara dan bersikeras bahwa kemajuan penting telah dibuat melalui kedua KTT sebelumnya dengan Kim. Kedua pemimpin telah bertemu pada dua kesempatan. Pertemuan terakhir mereka dilakukan pada Februari lalu di Hanoi, Vietnam, namun gagal menghasilkan kesepakatan terhadap tujuan denuklirisasi Korea Utara.

Dea Alvi Soraya

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA