Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Media Korut: Pertemuan Trump-Kim Luar Biasa

Senin 01 Jul 2019 08:01 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Panmunjong di Zona Demiliterisasi, Ahad (30/6).

Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Panmunjong di Zona Demiliterisasi, Ahad (30/6).

Foto: Korean Central News Agency/Korea News Service via AP
Partai Demokrat kecam pertemuan Trump-Kim.

REPUBLIKA.CO.ID, PYONGYANG -- Media Pemerintah Korea Utara (Korut) KCNA menggambarkan pertemuan akhir pekan antara pemimpinnya Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat (AS) donald trump sebagai peristiwa bersejarah dan luar biasa.

"Para pemimpin utama DPRK dan AS berjabat tangan bersejarah di Panmunjom adalah peristiwa luar biasa," kata KCNA, dilansir dari Guardian, Senin (1/7).

Trump menjadi presiden AS pertama yang menginjakkan kaki di Korut, Ahad (30/6). Ia bertemu Kim di zona demiliterisasi (DMZ) antara kedua Korea dan setuju melanjutkan pembicaraan nuklir. KCNA mengatakan Kim dan Trump membahas masalah yang menjadi perhatian dan kepentingan bersama dalam memecahkan masalah.

"Para pemimpin utama kedua negara sepakat tetap berhubungan di masa depan juga melanjutkan dan mendorong dialog produktif untuk membuat terobosan baru dalam denuklirisasi semenanjung Korea dan dalam hubungan bilateral," kata KCNA.

Pertemuan diprakarsai oleh Trump melalui Twitter pada Sabtu. Akan tetapi, analis menyatakan keduanya tidak lebih dekat untuk mempersempit kesenjangan setelah KTT pada Februari di Vietnam.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, mengatakan kepada wartawan tak lama sebelum meninggalkan Korea Selatan (Korsel) putaran pembicaraan baru kemungkinan akan terjadi sekitar Juli. Negosiator Korut akan menjadi diplomat kementerian luar negeri.

Dalam sebuah foto yang dirilis oleh KCNA pada Senin, Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong Ho dan Pompeo ditampilkan masing-masing duduk di sebelah Kim dan Trump di Freedom House, gedung tempat kedua pemimpin melakukan pembicaraan.

KCNA mengatakan selama obrolan antara Trump dan Kim, kedua pemimpin menjelaskan masalah yang meredakan ketegangan di semenanjung Korea. Selain itu juga membahas masalah yang menjadi perhatian dan kepentingan bersama.

Menurut KCNA, Kim menyatakan itu merupakan hubungan pribadi yang baik dengan Trump yang memungkinkan pertemuan dramatis hanya dengan pemberitahuan satu hari. Hubungan dengan Trump akan terus membuahkan hasil yang baik.

Kedua pemimpin memiliki keputusan berani yang mengarah pada pertemuan bersejarah. Kemudian menciptakan kepercayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara kedua negara, yang telah terjalin dalam permusuhan mengakar.

Di sisi lain, Trump mendapat kecaman dari Demokrat perihal ketertarikannya terhadap para pemimpin otoriter seperti Kim. Mereka skeptis pertemuan Trump-Kim sama saja hanya dengan kesempatan untuk berfoto.

Sementara Senator Chuck Schumer mengatakan, para diktator sepertinya tengah diangkat dan orang-orang yang tidak percaya pada demokrasi. Mantan sekretaris perumahan Julian Castro, seorang kandidat presiden, bertanya-tanya mengapa Trump ingin meningkatkan profil Kim, sementara ia tidak mematuhi komitmen masa lalu pada program senjata.

Senator Bernie Sanders mengatakan dia tidak menentang Trump yang duduk bersama musuh-musuh Amerika. Akan tetapi dia mengatakan AS perlu diplomasi nyata, dan dia belum melihatnya di bawah kepemimipinan Trump.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA