Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Uni Eropa Kesulitan Pilih Pimpinan Baru

Senin 01 Jul 2019 12:55 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Bendera Uni Eropa.

Bendera Uni Eropa.

Foto: EPA/Patrick Seeger
Berbagai kelompok politik di seluruh Eropa memperebutkan pengaruh di Uni Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Setelah melakukan negosiasi satu malam penuh, para pemimpin-pemimpin Uni Eropa belum dapat menentukan orang yang akan memimpin blok tersebut. Berbagai kelompok politik di seluruh penjuru Eropa masih memperebutkan pengaruh di Uni Eropa.

Ketika pemimpin dari 28 negara berkumpul dalam pertemuan darurat pada Ahad (30/6), Sosialis Belanda Frans Timmerman menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan Jean-Claude Juncker sebagai presiden Komisi Eropa. Keputusan itu diraih di sela-sela pertemuan G-20 di Jepang pekan lalu. 

Baca Juga

Namun, sebelum palu diketukkan rencana tersebut mendapat perlawanan keras dari negara-negara Eropa Timur dan Partai Rakyat Eropa (EPP) yang moderat-kanan. Hal itu memaksa ketua Dewan Uni Eropa Donald Tusk menghabis satu malam penuh melakukan pembicaraan bilateral untuk mencari kandidat yang disepakati bersama. 

Akan tetapi, sampai pagi belum ada nama yang muncul. Para diplomat mengatakan dalam proses negosiasi itu Timmermans kembali menjadi kandidat terkuat. Perdana Menteri Italia Giuseppi Conte mengatakan saat ini sulit untuk mencapai kesepakatan. 

"Sangat sulit untuk dikatakan, pada saat ini tampaknya belum ada kesepakatan," kata Conte, Senin (1/7).

Kebuntuan menggarisbawahi sulitnya mengambil suatu keputusan di Uni Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir blok tersebut juga kesulitan untuk menghadapi serangkaian krisis mulai dari imigrasi, perubahan iklim, dan krisis keuangan global. 

"Ini sedikit seperti Brexit, kami tahu apa yang orang-orang tidak inginkan tapi sangat sedikit yang mengatakan apa yang mereka mau," kata salah satu diplomat Eropa. 

Pertemuan itu upaya ketiga untuk mencari lima orang yang akan mengisi jabatan tertinggi di Uni Eropa selama lima tahun ke depan. Mereka akan menjalankan kebijakan di wilayah perdagangan bebas terbesar di dunia dan dihuni lebih dari 500 juta orang. 

Pejabat-pejabat Uni Eropa juga masih harus mencari kandidat presiden Bank Sentral Eropa selanjutnya. Namun, ada kemungkinan pembicaraan tentang hal itu akan ditunda mengingat para pemimpin Eropa masih mencoba memecahkan kebuntuan tentang siapa yang akan mengisi jabatan kepala Komisi. 

Di sela-sela pertemuan G-20 pemimpin-pemimpin Prancis, Jerman, Spanyol, dan Belanda memberikan kursi jabatan presiden Komisi Eropa ke Timmermans, karena kandidat EPP tidak mendapatkan suara mayoritas. 

EPP merupakan kelompok terbesar di Parlemen Uni Eropa. Sebagai gantinya EPP dapat diberikan kursi berpengaruh sebagai presiden Parlemen Uni Eropa. Tapi rencana tersebut mendapat perlawanan keras. 

"Sebagaian besar mayoritas perdana menteri-perdana menteri EPP tidak percaya kami harus menyerah pada kursi kepresidenan dengan mudahnya, tanpa berjuang," kata anggota EPP Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA