Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Trump Ingin AS Untung Banyak dalam Perdagangan dengan Cina

Selasa 02 Jul 2019 20:18 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Foto: AP Photo/Susan Walsh
AS dan Cina kembali memulai negosiasi perdagangan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) donald trump mengatakan, pembicaraan perdagangan dengan Cina sedang berlangsung. Menurut Trump, kesepakatan yang terjadi nanti perlu mengarah ke AS. 

Baca Juga

"Perunding AS dan Cina berbicara sangat banyak melalui telepon, tetapi mereka juga bertemu. Ini pada dasarnya sudah dimulai. Saya pikir kami memiliki peluang bagus untuk membuat kesepakatan," ujar Trump kepada wartawan, Selasa (2/7). 

Trump berharap posisi negosiasi Cina bergerak lebih dekat ke Washington. Menurut Trump, Cina memiliki keuntungan besar atas AS dalam perdagangan selama bertahun-tahun. 

"Jadi jelas Anda tidak bisa membuat kesepakatan 50-50. Itu harus menjadi kesepakatan yang agak mengarah untuk keuntungan kita," kata Trump.

Trump dan Presiden Cina, Xi Jinping sepakat untuk memulai kembali perundingan perdagangan. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Osaka, Jepang. 

Sebelumnya, putaran perundingan dagang antara kedua negara tidak mencapai kesepakatan pada Mei lalu. Pembicaraan terhenti setelah AS menuding Cina bergerak mundur karena janji reformasi. 

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Cina berharap AS dapat memperlakukan perusahaan-perusahaan Cina secara adil. "Cina tulus tentang melanjutkan negosiasi dengan AS, tetapi negosiasi harus sama dan menunjukkan rasa saling menghormati," kata pernyataan tersebut mengutip Presiden Xi.

Departemen Perdagangan AS telah menempatkan Huawei pada daftar hitam, yang secara efektif melarang perusahaan untuk membeli suku cadang dan komponen dari perusahaan AS tapa persetujua pemerintah. Dalam beberapa hari mendatang, Departemen Perdagangan AS akan meninjau ulang apakah Huawei dapat dikeluarkan dari daftar hitam. Langkah itu disambut baik oleh Cina.

"Jika AS melakukan apa yang dikatakannya, maka tentu saja, kami menyambutnya," ujar Utusan Kementerian Luar Negeri Cina, Wang Xiaolong. 

Sejumlah spesialis Asia termasuk mantan diplomat AS dan perwira militer mendesak Trump agar memikirkan kembali kebijakan yang memperlakukan Cina sebagai musuh. Mereka memperingatkan bahwa pendekatan itu dapat merugikan kepentingan AS dan ekonomi global. 

Investor bisnis dan pemimpin keuangan global juga telah memperingatkan bahwa perang tarif yang ketat antara AS dan Cina dapat merusak rantai pasokan global, dan mendorong ekonomi dunia ke tepi jurang. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mendesak para pembuat kebijakan negara-negara G-20 untuk mengurangi tarif dan hambatan dagang. Lagarde mengatakan, ekonomi global telah berada di jalan yang sulit akibat konflik perdagangan. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA