Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Rusia Siap Tingkatkan Dialog dengan AS

Kamis 04 Jul 2019 15:46 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin

Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin

Foto: AP
Rusia sebelumnya menangguhkan perjanjian nuklir dengan AS.

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA -- Rusia siap meningkatkan dialog dengan Amerika Serikat (AS) terkait perlucutan senjata dan strategi stabilitas. Presiden Rusia Vladimir Putih mengatakan, dirinya telah membahas permasalahan tersebut dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20, di Jepang.

Baca Juga

"Saya pikir bahwa mencapai tindakan konkret di bidang pelucutan senjata akan berkontribusi untuk memperkuat stabilitas internasional. Rusia memiliki kemauan politik untuk melakukannya. Sekarang terserah AS yang memutuskan," ujar Putin dalam wawancara dengan surat kabar Italia, Il Corriere della Sera, Kamis (4/7).

"Baru-baru ini, tampaknya Washington telah mulai merenungkan tentang meningkatkan dialog dengan Rusia dalam agenda strategis yang luas," kata Putin menambahkan. 

Sebelumnya, Putin telah menandatangani undang-undang federal untuk menangguhkan perjanjian Intermediate-range Nuclear Forces (INF) pada Rabu (3/7) lalu. Penangguhan INF secara resmi dilakukan setelah Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov mengisyaratkan kesiapan negaranya merespons setiap langkah yang berpotensi diambil NATO. Dia mengatakan Rusia akan merespons dengan langkah-langkah militer jika keamanannya terancam.

"Kami akan mempelajari keputusan yang dirumuskan negara-negara anggota NATO dalam beberapa bulan mendatang. Kami siap untuk opsi apa pun," ujar Ryabkov.

"AS dan sekutunya di NATO tentu harus disalahkan atas kemungkinan komplikasi dari situasi militer dan politik di kawasan Atlantik Eropa, karena mereka telah mengejar kebijakan untuk menghancurkan INF," kata Ryabkov.

AS dan Uni Soviet menandatangani INF pada 1987. Perjanjian tersebut melarang kedua belah pihak memproduksi atau memiliki rudal nuklir dengan daya jangkau 500-5.500 kilometer. Pada Januari lalu, AS memutuskan mundur dari perjanjian itu. Washington menuding Moskow kerap melanggar ketentuan dalam INF.

Keputusan dua negara menangguhkan keterikatannya dalam INF telah memicu kekhawatiran dari negara-negara Eropa. Sebab, selama ini INF telah dianggap sebagai fondasi keamanan bagi Benua Biru. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA