Kamis 04 Jul 2019 16:18 WIB

AS akan Tawarkan Bagian Kedua Perdamaian Palestina-Israel

Palestina sebelumnya memboikot rencana perdamaian bagian pertama yang ditawarkan AS.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
Penasihat Gedung Putih sekaligus menantu Presiden AS Donald Trump Jared Kushner. Kushner menginisiasi konferensi di Bahrain untuk membicarakan upaya mengangkat ekonomi negara-negara di Timur Tengah melalui investasi global.
Foto: AP Photo/Susan Walsh
Penasihat Gedung Putih sekaligus menantu Presiden AS Donald Trump Jared Kushner. Kushner menginisiasi konferensi di Bahrain untuk membicarakan upaya mengangkat ekonomi negara-negara di Timur Tengah melalui investasi global.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Penasihat Senior Gedung Putih Jared Kushner dilaporkan akan mengumumkan bagian kedua dari rencana perdamaian Timur Tengah pekan depan. Namun, belum ada keterangan apakah isu Palestina-Israel akan tercakup di dalamnya.

Menurut situs berita Axios, Kushner mengatakan bahwa Palestina membuat kesalahan strategis dengan memboikot konferensi ekonomi di Manama, Bahrain, pekan lalu. Namun, hal itu tak menyurutkan niatan Amerika Serikat (AS) untuk mendamaikan Israel dengan Palestina.

Baca Juga

Di sisi lain, kata Kushner, Presiden AS Donald Trump, sangat menyukai Presiden Palestina Mahmoud Abbas. “Kami menghormati Presiden Abbas dan kami yakin dia ingin berdamai, dan kami ingin memberinya kesempatan untuk mencoba dan melakukannya,” ujar Kushner dalam laporan Axios, dikutip Anadolu Agency, Rabu (3/7).

Pada Rabu lalu, AS menggelar konferensi ekonomi di Manama. Tujuan utama konferensi itu adalah menarik para pebisnis untuk berinvestasi di wilayah Palestina. Washington menargetkan menghimpun dana sebesar 50 miliar dolar AS. Namun, banyak kalangan menilai konferensi itu gagal dan tak sesuai harapan.  

Solusi ekonomi menjadi upaya terbaru yang ditawarkan AS guna mendamaikan Palestina dan Israel. Kushner menilai Palestina perlu menerima rencana ekonomi yang diusulkan negaranya.

“Menyetujui jalur ekonomi ke depan adalah prasyarat yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah politik yang sebelumnya tidak dapat diselesaikan,” ujar Kushner saat berpidato dalam konferensi itu.

Dia mengakui solusi ekonomi yang ditawarkan AS untuk penyelesaian konflik Israel-Palestina sama sekali tak menyinggung persoalan politik, termasuk tuntutan Palestina untuk diakui sebagai negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Namun, Kushner tak memungkiri bahwa hal-hal yang menyangkut politik itu perlu ditangani juga nantinya.

“Agar lebih jelas, pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran bagi rakyat Palestina tidak mungkin terjadi tanpa solusi politik yang adil dan berkelanjutan, yang menjamin keamanan Israel dan menghormati martabat rakyat Palestina,” kata Kushner.

Oleh sebab itu, ia berupaya meyakinkan Palestina agar bersedia menerima rencana ekonomi AS. “Pesan langsung saya kepada rakyat Palestina adalah bahwa terlepas dari apa yang dikatakan orang-orang yang mengecewakan kalian di masa lalu, Presiden Trump dan Amerika tidak menyerah pada Anda,” ujarnya.

Namun, Abbas telah mengecam konferensi ekonomi di Bahrain. Dia mengisyaratkan menolak solusi ekonomi yang diusulkan AS. "Uang itu penting. Ekonomi penting. Tapi politik lebih penting. Solusi politik lebih penting," kata Abbas. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement