Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Putri Reema Jadi Dubes Perempuan Pertama dari Arab Saudi

Jumat 05 Jul 2019 03:00 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Putri Reema binti Bandar bin Sultan resmi dilantik sebagai duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS), Rabu (17/4).

Putri Reema binti Bandar bin Sultan resmi dilantik sebagai duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS), Rabu (17/4).

Foto: SPA
Putri Reema akan menjadi dubes Arab Saudi di Washington DC, AS.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH – Arab Saudi kini memiliki duta besar (dubes) perempuan pertama, yakni Putri Reema Binti Bandar Al-Saud. Dia akan ditugaskan di Kedutaan Besar Saudi di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

Baca Juga

Dalam cicitan di akun Twitter pribadinya pada Kamis (4/7), Putri Reema mengaku bersemangat untuk memulai perjalanan barunya dengan tim yang luar biasa. “Saya merasa terhormat menunjukkan mandat saya hari ini untuk AS. Menantikan untuk memulai bab hidup saya di Washington DC. Petualangan dimulai dengan tim yang hebat,” katanya.

Putri Reema pun mengisyaratkan akan mengemban jabatan itu dengan sebaik-baiknya. “Semoga Allah membantu saya dan rekan-rekan saya untuk menyukseskan misi kami untuk melayani negara kita tercinta,” ujarnya.

Pada 16 April lalu, Raja Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud mengeluarkan dekret kerajaan untuk menunjukkan Putri Reema sebagai dubes Saudi untuk AS. Jabatan itu sebelumnya diisi oleh Pangeran Khalid bin Salman. 

Banyak media Barat, seperti New York Times dan Washington Post menilai, ditunjuknya Putri Reema sebagai dubes Saudi untuk AS merupakan jalan untuk memperbaiki hubungan kedua negara. Senat AS diketahui telah mendesak pemerintahan Donald Trump membatasi hubungan dengan Saudi. 

Hal itu disebabkan adanya dugaan keterlibatan pejabat dan anggota Kerajaan Saudi dalam kasus pembunuhan jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi di Istanbul, Turki, pada Oktober tahun lalu. Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) adalah tokoh yang kerap disebut memerintahkan pembunuhan tersebut. 

Namun, Pemerintah Saudi telah berulang kali membantah keterlibatan Pangeran MBS. Baru-baru ini pemerintahan Trump dilaporkan sedang mendesak Saudi untuk mengungkap kemajuan penyidikan dalam kasus Khashoggi. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA