Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Mengapa Iran Berupaya Memperkaya Uranium?

Senin 08 Jul 2019 07:04 WIB

Rep: Muhammad Tiarso Baharizqi/ Red: Ani Nursalikah

Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran.

Foto:
Tambang uranium beroperasi di sekitar 20 negara dunia saat ini.

Uranium dalam bentuk gas perlu untuk proses pengayaan sehingga uranium oksida selanjutnya dapat diubah menjadi uranium hexafluoride. Lalu apa yang istimewa dari 3,67 persen kandungan uranium tersebut?

Pada 1980-an, Pressurized Water Reactors (PWRs) - sejenis reaktor produksi energi di mana air diubah menjadi uap oleh panas yang dihasilkan oleh proses fisi nuklir, bahan bakar uranium yang dibutuhkan harus diperkaya dengan kemurnian sekitar 3,7 persen. "Dengan 3,7 persen, Anda dapat membakar selama sekitar satu tahun sebelum harus mematikan reaktor Anda selama sebulan untuk mengisi bahan bakar," kata Profesor John Luxat, ketua penelitian industri analisis keselamatan nuklir di Universitas McMaster.

Jadi kemurnian 3,67 persen dianggap jumlah minimum yang diperlukan untuk menjalankan reaktor, meskipun sebagian besar reaktor modern berjalan setidaknya lima persen. "Sekitar 27 ton bahan bakar segar diperlukan setiap tahun oleh reaktor nuklir 1.000 MWe," menurut World Nuclear Association.

Sebaliknya, pembangkit listrik tenaga batu bara membutuhkan lebih dari 2,5 juta ton batubara untuk menghasilkan listrik sebanyak itu. Iran mengatakan keinginannya untuk terus mengembangkan uranium dalam program nuklirnya adalah untuk program sipil yang berbasis penelitian, termasuk untuk penelitian medis.

Semakin tinggi kemurnian uranium, semakin efisien proses produksi elemen terkait. Teheran juga melakukan penelitiannya sebagai rencana cadangan.

"Pengayaan uranium Iran adalah untuk mempelajari siklus nuklir, sehingga ketika Iran memiliki reaktor sendiri, ia dapat menyediakan bahan bakar itu sendiri jika negara lain menolaknya," kata wartawan Iran Hooman Majd kepada Aljazirah.

"Iran meningkat menjadi pengayaan 20 persen untuk menyediakan bahan bakar untuk batang reaktor riset Teheran, yang menciptakan isotop medis. Ironisnya, AS membuktikan Iran benar mereka membutuhkan siklus bahan bakar asli dengan menolak menjual bahan bakar Iran untuk reaktor itu." Katanya.

Inilah yang membunyikan bel alarm bahaya. Uranium dengan kemurnian kurang dari 20 persen U-235 dianggap "pengayaan rendah".

Universitas dan pusat penelitian di seluruh dunia sekarang terbatas pada pengayaan di bawah 20 persen, sebagai bagian dari upaya proliferasi anti-senjata dalam beberapa dekade terakhir. Pada kemurnian 20 persen, uranium dianggap bahan proliferasi potensial.

Terkait hal tersebut, Iran berusaha membantah mereka memproduksi senjata nuklir sembari merujuk pada keputusan agama yang dikeluarkan pada 2003 oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang melarang pengembangan atau penggunaannya. Menurut Bunn, Professor Harvard University mengatakan, ia tidak yakin klaim Iran tentang program nuklirnya selalu ditujukan untuk sipil adalah salah.

"Fasilitas pengayaan Fordow, khususnya, terkubur di bawah gunung untuk melindunginya dari serangan, dirancang untuk sekitar 3.000 sentrifugal. Sempurna untuk program senjata nuklir kecil, tetapi terlalu sedikit untuk mendukung reaktor tenaga sipil," Katanya.

Jadi apa selanjutnya? Iran menyalahkan Eropa, khususnya, karena gagal memenuhi janjinya dan membantu ekonomi Iran pulih ketika sanksi AS mencengkeram negara itu.

"Saya berharap Eropa akan melihat reaksi apa yang ada di AS, untuk melihat apakah Trump mendukung ancamannya dengan unjuk kekuatan lebih lanjut," kata Mark Shanahan, kepala departemen politik dan hubungan internasional di Universitas Reading.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA