Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Iran Tingkatkan Pengayaan Uranium, Trump: Hati-Hati

Senin 08 Jul 2019 08:02 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Foto menunjukkan bagian atas dari fasilitas nuklir reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya ibu kota Teheran, Iran.

Foto menunjukkan bagian atas dari fasilitas nuklir reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya ibu kota Teheran, Iran.

Foto: Mehdi Marizad/Fars News Agency via AP
Mnelu AS mengatakan tindakan Iran akan mengarah pada isolasi dan sanksi lebih lanjut.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran lebih baik hati-hati. Pernyataan itu dikeluarkan setelah Iran mengatakan meningkatkan pengayaan uranium di luar batas yang ditentukan dalam perjanjian nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Baca Juga

Trump membuat komentarnya beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menyampaikan melalui Twitter keputusan Iran akan mengarah pada isolasi dan sanksi lebih lanjut. Di sisi lain, Inggris mendesak Iran segera menghentikan dan membalikkan semua tindakan yang tidak konsisten dengan perjanjian.

"Negara-negara harus mengembalikan standar lama tidak ada pengayaan untuk program nuklir Iran. Rezim Iran dengan senjata nuklir akan menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi dunia," kata Pompeo dilansir di Voice of America, Ahad (7/7).

Inggris mengatakan Iran sebaiknya menerima pembatasan pada program nuklirnya dengan imbalan bantuan dari sanksi ekonomi. Sementara Prancis mengatakan langkah Iran adalah pelanggaran pakta internasional.

Laporan dari Iran mengatakan para pejabat dapat meningkatkan pengayaan hingga lima persen. Jumlah yang cukup untuk menghasilkan bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, tetapi masih jauh di bawah 90 persen yang dibutuhkan untuk membangun senjata nuklir. Batas saat ini berdasarkan kesepakatan nuklir adalah 3,67 persen.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, musuh bebuyutan Iran, mengatakan pengayaan uranium dibuat untuk satu alasan, yaitu menciptakan bom atom. Trump menarik Amerika dari JCPOA tahun lalu. AS memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran, yang telah melumpuhkan perekonomian Iran.

Iran telah keluar dari bagian dari perjanjian nuklir. Mereka mengancam meningkatkan pengayaan uranium kecuali para penandatangan yang tersisa JCPOA, yakni Inggris, Cina, Prancis, Jerman, dan Rusia memberikan bantuan sanksi pengurangan dan lebih banyak bantuan ekonomi.

Presiden Iran Hassan Rouhani baru-baru ini mengatakan Iran siap memperkaya jumlah yang diinginkan di luar level 3,67 persen. Dia berjanji melanjutkan pembangunan reaktor air berat Arak, sebuah proyek yang Iran tutup karena menandatangani JCPOA.

Inggris, Prancis, Jerman dan Uni Eropa (UE) mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama baru-baru ini bahwa mereka telah konsisten dan jelas komitmen mereka terhadap kesepakatan nuklir tergantung pada kepatuhan penuh oleh Iran. Mereka mendesak Republik Islam itu menahan diri dari langkah-langkah selanjutnya yang merusak kesepakatan itu. Rusia dan Cina juga keberatan dengan Iran yang melanggar kesepakatan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA