Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Badan PBB: Ada Satu Anak Imigran Meninggal Setiap Hari

Jumat 28 Jun 2019 16:37 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Aksi dievakuasi imigran yang diselamatkan. ilustrasi

Aksi dievakuasi imigran yang diselamatkan. ilustrasi

Foto: Reuters
Satu anak imigran meninggal setiap hari terjadi selama lima tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB mengatakan dalam lima tahun terakhir setiap hari ada satu anak imigran yang hilang atau meninggal dunia. Kebanyakan mereka dalam perjalanan berbahaya seperti mengarungi Lautan Mediterania atau menyeberangi perbatasan Amerika Serikat (AS)-Meksiko. 

Baca Juga

Pada Jumat (28/6), IOM merilis laporan yang berjudul 'Fatal Journey'. Dalam laporan itu disebutkan sejak 2014, ada 1.600 anak beberapa di bawah umur 6 bulan meninggal dunia dalam perjalanan berbahaya. 

Anak-anak itu masuk dalam 32 ribu orang yang meninggal dunia dalam perjalanan mencari rumah baru. Laut Mediterania menjadi jalur penyeberangan yang paling berbahaya. 

Lebih dari 17.900 orang meninggal dunia di sana. Banyak jalur berbahaya dari Libya menuju Italia. 

IOM juga menunjukkan ada peningkatkan kematian di perbatasan AS-Meksiko sejak  2014. Totalnya ada 1.900 orang meninggal dunia di perbatasan itu. 

Baru-baru ini sebuah foto seorang ayah dan putrinya yang berusia dua tahun tewas tenggal di perbatasan AS-Meksiko memicu kemarahan warga AS atas kebijakan ketat Presiden Donald Trump terhadap imigran. Dilansir dari Deutsche Welle, foto tersebut memperlihatkan anak dan ayah itu saling berpegangan tangan dalam keadaan telungkup. 

Setelah pencarian selama 12 jam akhirnya pihak berwenang menemukan jenazah Oscar Alberto Martinez yang berusia 25 tahun dan putrinya Angie Valeria pada hari Senin (24/06). Sang ibu, Tania Vanessa Avalos, yang juga berusaha untuk menyeberangi sungai, berhasil selamat. 

Surat kabar Meksiko La Jornada melaporkan keluarga asal El-Salvador itu telah berada di Meksiko selama dua bulan. Mereka miliki visa kemanusiaan yang diperoleh di perbatasan Guatemala. 

Pada Ahad (23/06), mereka pergi ke titik penyeberangan untuk meminta suaka di kota Matamoros di Meksiko. Kota yang berbatasan dengan kota Brownsville di AS.

Ketika mendapati kantor perbatasan Meksiko tutup pada Ahad, keluarga tersebut kemudian berjalan kaki di sepanjang sungai. Sampai akhirnya mereka mencapai titik di mana mereka mencoba untuk menyeberang. 

Tampaknya karena frustrasi tidak dapat memproses permintaan suaka sang ayah untuk mencoba menyeberangi sungai yang berbahaya. Ramirez berenang ke tepi sungai di wilayah AS dan meninggalkan putrinya di sana.

Lalu ia kembali ke sisi Meksiko untuk membantu Tania Vanessa Avalos menyeberang. Tapi saat dia sedang kembali untuk menjemput istrinya, Angie Valeria melompat ke air.

Ramirez pun bergegas berbalik dan berhasil meraih putrinya yang berpegangan padanya. Tapi arus yang kuat menyeret dan menghempaskan mereka. 

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA