Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Tujuh Jasad Pendaki di Himalaya Mulai Dievakuasi

Rabu 03 Jul 2019 16:54 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Pegunungan Himalaya, ilustrasi

Pegunungan Himalaya, ilustrasi

Foto: AP
Tujuh pendaki tewas akibat longsoran salju di pegunungan Himalaya.

REPUBLIKA.CO.ID, MUMBAI -- Pihak berwenang India mulai menurunkan jasad tujuh pendaki yang tewas akibat longsoran salju di Pegunungan Himalaya, Rabu (3/7). Ketujuh jasad tersebut telah hilang sejak Mei lalu, dan akan segera diidentifikasi.

Baca Juga

Polisi Perbatasan Indo-Tibet memimpin evakuasi ketujuh jasad pendaki dari pegunungan menuju kota Pithoragarh, di utara negara bagian Uttarakhand. Juru bicara Polisi Perbatasan Indo-Tibet, Vivek Kumar Pandey mengatakan, empat jasad diturunkan pada Rabu pagi. 

"Tiga jasad lainnya juga akan diterbangkan ke Pithoragarh segera mungkin," ujar Pandey. 

Anggota kepolisian dan ambulans telah menunggu kedatangan jenazah di bandara Pithoragarh. Ketujuh jasad itu kemudian diidentifikasi dengan data-data postmortem. 

Para pendaki telah diidentifikasi antara lain Martin Moran, John McLaren, Rupert Whewell dan Richard Payne yang berasal dari Inggris. Kemudian, Anthony Sudekum dan Ronald Beimel dari AS, Ruth McCance dari Australia, dan petugas penghubung Chetan Pandey dari Indian Mountaineering Foundation.

Jumlah total pendaki yang dilaporkan sebanyak delapan orang. Namun, satu jasad pendaki tidak ditemukan. Delapan pendaki tersebut terdiri atas empat pendaki dari Inggris, dua dari Amerika Serikat (AS), serta sisanya masing-masing berasal dari Australia dan India. 

Delapan pendaki tersebut hilang pada 31 Mei 2019 setelah dilaporkan gagal kembali ke base camp. Mereka diprediksi hilang di Nanda Devi, yang merupakan puncak paling menantang di dunia dan hanya segelintir orang yang bisa mencapainya. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA