Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Upaya Kudeta di Sudan Digagalkan, 16 Perwira Ditangkap

Jumat 12 Jul 2019 08:05 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nur Aini

Pengunjuk rasa di Sudan menentang dewan militer di Khartoum, Sudan, 30 Juni 2019.

Pengunjuk rasa di Sudan menentang dewan militer di Khartoum, Sudan, 30 Juni 2019.

Foto: AP Photo/Hussein Malla
Sudan dilanda krisis politik sejak penggulingan Presiden Omar al-Bashir.

REPUBLIKA.CO.ID, KHARTOUM -- Setidaknya 16 perwira militer telah ditangkap dalam upaya kudeta di Sudan. Hal itu disampaikan dewan militer Sudan yang memerintah dan berkuasa di Sudan (TMC) di mana mereka menggagalkan upaya kudeta militer tersebut, melalui TV milik pemerintah, pada Kamis malam waktu setempat.

"Para perwira, prajurit dari tentara, dan Badan Intelijen dan Keamanan Nasional, beberapa dari mereka sudah pensiun, sedang berusaha melakukan kudeta," kata Jenderal Jamal Omar dari TMC dalam sebuah pernyataan yang disiarkan langsung oleh televisi pemerintah, dilansir dari Aljazirah, Jumat (12/7).

Baca Juga

Omar mengatakan, pasukan reguler mampu menggagalkan upaya itu, tetapi ia tidak mengatakan kapan upaya kudeta dilakukan. Omar mengatakan pasukan keamanan sedang mengejar perwira tambahan yang mengambil bagian dalam merencanakan upaya kudeta. Namun, tidak ada keterangan lebih lanjut.

Militer dan koalisi pro-demokrasi pekan lalu menyetujui dewan kedaulatan bersama yang akan memerintah selama tiga tahun sementara pemilihan diselenggarakan. Kedua belah pihak mengatakan dorongan diplomatik oleh sekutu adalah kunci untuk mengakhiri pertikaian yang menimbulkan kekhawatiran perang saudara.

Sudan mengalami kebuntuan politik sejak penggulingan Presiden Omar al-Bashir yang otokratis pada April. Transisi telah menjadi berdarah ketika pendukung pro-demokrasi berkemah di luar markas militer selama beberapa pekan menuntut pemerintahan sementara yang dipimpin sipil dibubarkan secara brutal.

Petugas medis oposisi mengatakan lebih dari 100 orang terbunuh ketika militer pemerintah membersihkan aksi unjuk rasa. Para pejabat menyebutkan jumlah korban jiwa 62 orang. Berdasarkan kesepakatan yang dilaporkan, lima kursi akan diberikan kepada militer dan lima kursi untuk warga sipil.

Sedangkan, kursi tambahan diberikan kepada warga sipil yang disetujui oleh kedua belah pihak. Diharapkan rincian akhir dari perjanjian pembagian kekuasaan akan diumumkan pada Kamis, tetapi tidak jelas apakah itu sekarang akan terjadi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA