Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Kondisi Rohingya di Bangladesh Semakin Parah Saat Banjir

Jumat 12 Jul 2019 10:09 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nur Aini

Suasana kamp pengungsi Rohingya Balukhali, Bangladesh,

Suasana kamp pengungsi Rohingya Balukhali, Bangladesh,

Foto: Altaf Qadri/AP
Pengungsi Rohingya di Bangladesh semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup.

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA — Angin muson yang melanda wilayah tenggara Bangladesh dalam satu pekan terakhir telah berdampak pada penduduk setempat, tak terkecuali para pengungsi Rohingya dari Myanmar yang berada di sana. 

Salah satunya adalah keluarga Hafiz Ullah. Pengungsi Rohingya itu mengaku harus meninggalkan tempat tinggal sementara mereka dan berlindung di lokasi yang lebih aman karena kondisi cuaca buruk. Tak hanya itu, keluarga Ullah juga kehilangan hampir seluruh barang-barang milik mereka. Nampaknya, segelintir orang tak bertanggung jawab mengambil kesempatan atas kemalangan yang terjadi dan mengambil benda-benda yang mereka miliki. 

Baca Juga

“Semua barang-barang kami dicuri, itu sebabnya kami harus hidup dalam gelap, karena senter dan baterai yang kami miliki hilang,” ujar istri dari Haif Ullah, Kawser dilansir CNN, Jumat (12/7). 

Sementara itu, ada beberapa barang keperluan rumah tangga keluarga tersebut yang rusak karena banjir, di antaranya adalah kulkas dan kompor, yang menjadi kebutuhan penting bagi mereka. 

“Kami tidak bisa memasak dan tidak punya makanan, jadi kami tak bisa memberikan apapun untuk anak-anak kami, bahkan untuk minum air atau pergi ke luar karena banjir,” ujar Hafiz. 

Bahkan, menurut Hafiz sebelum banjir besar terjadi pekan lalu, anak-anaknya sudah mengalami sakit dan kekurangan gizi. Ia mengatakan tak ada obat yang mereka miliki dan sulit untuk mencarinya. 

Keluarga Ullah hanya satu di antara sejuta warga Rohingya yang menjadi pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh. Etnis minoritas tersebut melarikan diri dari negara asal mereka, Myanmar menyusul terjadinya operasi militer di Rakhine pada Agustus 2017 yang mengancam nyawa mereka. 

Banjir yang datang setelah Bangladesh dilanda angin muson telah mengancam keberadaan para pengungsi. Mereka yang mencari perlindungan di Cox’s Bazar akan merasa semakin menderita dengan bencana alam yang terjadi, serta penanganan bantuan yang tidak dapat dilakukan dalam sekejap mata. 

Dalam sebuah laporan, disebutkan bahwa ratusan rumah darurat telah hancur akibat tanah longsor yang terjadi di lereng bukit berlumpur di sekitar kamp. Sekitar 4.000 keluarga telah terdampak dan banyak dari mereka saat ini dipindahkan ke tempat penampungan sementara.

UNICEF juga melaporkan terdapat dua anak laki-laki yang tenggelam dalam bencana banjir itu dan beberapa lainnya terluka. Sekitar 60 ribu anak-anak di kamp saat ini tidak dapat bersekolah, setelah ratusan pusat pembelajaran terpaksa ditutup. Rute akses, pusat kesehatan, dan titik distribusi bantuan juga telah rusak.

"Sangat sulit karena jalannya sangat berlumpur, orang-orang memiliki banyak kesulitan kadang-kadang untuk mencapai titik layanan, serta bagi anak-anak pergi ke sekolah,” ujar emergency manager UNICEF di Cox’s Bazar, Berta Travieso. 

Sejumlah organisasi bantuan telah meningkatkan upaya mendukung para pengungsi dan mencegah penyebaran penyakit melalui air. Menteri Luar Negeri Bangladesh Shahidul Haque mengatakan mempersiapkan dengan baik segala kemungkinan yang terjadi. 

Haque juga mengatakan bahwa Bangladesh bekerja sama dengan PBB dan menekankan bahwa negaranya memperhatikan warga Rohingya dengan baik. Secara khusus, ia menggarisbawahi Perdana Menteri Sheikh Hasina dalam hal itu. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA