Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Trump Mulai Gelombang Deportasi Imigran Pekan Ini

Sabtu 13 Jul 2019 23:31 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Andri Saubani

Presiden AS, Donald Trump

Presiden AS, Donald Trump

Foto: VOA
Operasi penangkapan diperkirakan akan menargetkan ribuan keluarga di 10 kota.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Gelombang penangkapan imigran di Amerika Serikat (AS) akan dimulai pada pekan ini. Presiden AS Donald Trump sudah mengkonfirmasi rencana yang bertujuan untuk menahan gelombang imigran dari Amerika Tengah tersebut akan dimulai pada Ahad (14/7).

Setelah sempat tertunda operasi penangkapan itu diperkirakan akan menargetkan ribuan keluarga di 10 kota. Operasi itu mengincar para imigran yang sudah diputuskan untuk dideportasi tapi belum meninggalkan AS.

Trump mengungkapkan operasi ini bulan lalu di media sosial Twitter tapi menundanya. Tidak biasa pemerintah mengumumkan operasi deportasi sebelum dilaksana.

"Orang-orang datang ke negara ini dengan cara ilegal, kami membawa mereka keluar secara legal," kata Trump, Sabtu (13/7).

Ia mengatakan, operasi ini fokus menargetkan para pelaku kriminal. Biasanya Badan Bea Cukai dan Imigrasi AS (ICE) menangkap ratusan imigran ilegal per pekan. Sebagian besar penangkapan tersebut dilakukan tanpa publikasi.

Trump mengatakan ia tidak khawatir pemberitahuan sebelumnya membuat ICE kesulitan menangkap para imigran. "Jika katanya keluar, maka keluar," kata Trump.

Sejak pertama kali Trump mengungkapkan rencana ini sebagian besar kota yang dikuasai Partai Demokrat telah menyatakan menolak berkooperasi dengan ICE untuk menjalankan kebijakan itu. Mereka juga telah mengiklankan saluran bantuan yang dapat dihubungi untuk membantu para imigran memahami hak mereka.

Anggota legislatif dari Partai Demokrat dan beberapa kelompok lainnya telah mencoba memberitahu para imigran hak mereka. Para imigran diminta untuk tidak membuka pintu bila disambangi petugas ICE kecuali ada surat perintah pengadilan, tidak mengatakan atau menunjukan tanda apa pun sebelum berbicara dengan pengacara mereka.

Trump yang diusung Partai Republik telah menjadikan kebijakan anti-imigran sebagai prioritas pemerintahannya. Ia mencoba menangani gelombang imigran yang sebagian besar datang dari Amerika Tengah. Para imigran yang berusaha masuk melalui perbatasan AS-Meksiko itu kebanyakan minta suaka.

Rencana penangkapan imigran ini diiringi kritikan terhadap pusat penahanan imigran yang penuh sesak dan kotor. Petugas perbatasan juga memisahkan anak-anak dari orang tua mereka.

Dalam rapat dengar pendapat di House of Representative beberapa anggota Partai Demokrat mengatakan mereka khawatir gelombang penangkapan selanjutnya akan membuat semakin banyak anak-anak yang dipisahkan dari orang tua mereka. Ketua Komite Pengawasan dan Reformasi House Elijah Cummings menanyai organisasi pengawas pemerintah federal tentang laporan kondisi pusat penahanan di perbatasan. 

Dalam rapat dengar itu Pelaksana Tugas inspektorat jenderal Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Jennifer Costello mengatakan pemerintah gagal dalam hal 'penuh sesaknya tempat penahanan, lama penahan, dan kebersihan yang harusnya didapatkan anak-anak'. Costello mengatakan berdasarkan apa yang ia lihat 'mustahil' pemerintah telah memenuhi standar yang sudah ditentukan.

Trump mengirim Wakil Presiden Mike Pence ke pusat penahanan imigran di McAllen, Texas yang selama ini dikritik. Pence datang bersama para jurnalis yang selama ini dilarang untuk masuk ke dalam pusat penahanan.

Pence mengunjungi salah satu fasilitas yang penuh sesak dan bau. Di mana ada sekitar 400 laki-laki ditahan di balik kawat besi dan beberapa diantaranya tidur di lantai. Mereka ditahan karena menyeberang ke perbatasan AS secara ilegal.

Pemerintah Trump meningkatkan tekanan kepada pemerintah Meksiko dan beberapa negara Amerika Tengah. Trump ingin mereka membantu AS untuk menahan gelombang imigran tersebut.

Pada Senin lalu, Trump bertemu dengan Presiden Guatemala Jimmy Morales di Gedung Putih. Mereka membicarakan masalah imigrasi dan keamanan. Morales mungkin menandatangani kesepakatan dengan Trump yang mendeklarasikan Guatemala sebagai tempat aman bagi pencari suaka.

Sesuatu yang dapat mencegah imigran mengajukan suaka ke AS. Selain upaya internasional ini, Trump juga menghalangi para imigran masuk AS dengan tindakan keras di perbatasan.

Contohnya seperti operasi gelombang deportasi pekan ini. ICE diperkirakan akan mengincar keluarga yang kasusnya ditangani pengadilan pada awal tahun 2018 lalu.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA