Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Sosok Empat Perempuan Anggota Kongres Target Rasialis Trump

Selasa 16 Jul 2019 10:44 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Dari kiri ke kanan, anggota Kongres AS yang dilecehkan Presiden AS Donald Trump, Alexandria Ocasio-Cortez dari New York, Rashida Tlaib dari Michigan, dan Ayanna Pressley dari Massachusetts, saat bersaksi mengenai pemisahan anak imigran, 12 Juli 2019.

Dari kiri ke kanan, anggota Kongres AS yang dilecehkan Presiden AS Donald Trump, Alexandria Ocasio-Cortez dari New York, Rashida Tlaib dari Michigan, dan Ayanna Pressley dari Massachusetts, saat bersaksi mengenai pemisahan anak imigran, 12 Juli 2019.

Foto: AP Photo/Pablo Martinez Monsivais
Donald Trump menyerang empat perempuan anggota kongres dengan komentar rasialis

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) terang-terangan menyerang sayap liberal-progresif Partai Demokrat yang berisi perempuan-perempuan non-kulit putih. Dalam cicitannya itu, Trump mengatakan perempuan itu untuk kembali ke negaranya masing-masing. 

Baca Juga

Padahal dari empat perempuan itu, hanya satu yang lahir di luar AS. Mereka membantu Partai Demokrat untuk kembali menguasai House of Representative, membuat pemerintahan AS kembali seimbang. 

Trump mempertahankan cicitannya pada Senin (16/7). Ia mengatakan para anggota Demokrat itu untuk meninggalkan AS jika mereka terus mengkritik pemerintahannya. Pernyataan itu tidak hanya dikecam Partai Demokrat tapi juga sejumlah anggota Partai Republik. 

Berikut empat anggota Kongres perempuan yang diincar Trump. 

Alexandria Ocasio-Cortez, 29 tahun dari New York. 

Ia lahir di Bronx, New York dan pernah berkerja sebagai bartender. Ocasio-Cortez menjadi bintang sebelum ia terpilih sebagai anggota Kongres. Gayanya yang meledak-ledak tapi dekat dengan realita kelas menengah AS membuatnya memiliki jutaan pengikut di media sosial. 

Ocasio-Cortez yang mendekripsikan dirinya sebagai sosialis-demokratis tengah berselisih dengan ketua House Nancy Pelosi. Ia juga diduga sedang didekati kandidat presiden dari Partai Demokrat Senator Elizabeth Warren dan Bernie Sanders. 

"Pak Presiden, negara 'tempat saya berasal' dan negara yang saya bersumpah layani adalah Amerika Serikat," tulis Ocasio-Cortez kepada Trump di Twitter.

Ilhan Omar, 36 tahun dari Minnesota. 

Omar anak imigran yang melarikan diri dari perang sipil di Somalia. Negara berpenduduk 12 juta orang itu hancur karena perang sipil pada 1991. 

Sebelum datang ke AS sebagai imigran pada tahun 1995 Omar sempat tinggal di kamp pengungsian di Kenya. Omar menjadi warga negara AS pada 2000.

Di House, ia berulang kali melawan politisi-politisi senior Demokrat karena pernyataan jujurnya tentang Israel. Ia juga mempertanyakan pengaruh Israel terhadap Washington. 

"Satu-satunya negara kami bersumpah layani adalah Amerika Serikat, itulah mengapa kami melawan untuk melindunginya dari presiden yang paling buruk, korup, dan tidak kompeten yang pernah kami lihat," tulis Omar kepada Trump.  

Rashida Tlaib, 42 tahun dari Michigan. 

Perempuan keturunan Palestina itu berasal dari Detroit, Michigan. Ia dan Omar menjadi perempuan muslim pertama yang mengabdi di legislatif AS. 

Seperti Omar, nama Tlaib juga naik ketika Pelosi naik sebagai ketua House pada Januari lalu. Dalam sebuah rekaman video Tlaib terlihat berbicara dengan kelompok liberal. Ia mengatakan akan menggulingkan Trump. 

"Kami akan makzulkan orang brengsek itu," katanya. 

Sampai saat ini belum ada upaya pemakzulan, karena Pelosi dan politisi senior Demokrat lainnya melihat belum ada sentimen publik bipartisan untuk melakukan itu. 

"Terus bicara, Anda hanya membuat saya bekerja lebih keras, saya bangga dengan akar Palestina saya dan perundung lemah seperti Anda tidak pernah menang," kata Tlaib kepada Trump. 

Ayanna Pressley, 45 tahun dari Massachusetts. 

Perempuan asal Cincinnati yang besar di Chicago ini pernah bekerja untuk Joseph P. Kennedy. Ia juga bekerja untuk Senator John Kerry selama 15 tahun.

Pada 2009, ia maju dalam pemilihan Dewan Kota Boston, menjadi perempuan non-kulit putih pertama yang duduk di badan pemerintahan itu selama 100 tahun. 

"Inilah seperti apa rasialisme itu, kami adalah demokrasi, dan kami tidak akan ke mana-mana, kecuali kembali ke DC untuk membela keluarga-keluarga yang Anda pinggirkan dan fitnah setiap hari," tulis Pressley kepada Trump.    

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA