Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Iran: Eropa Harus Paksa AS Cabut Sanksi

Rabu 17 Jul 2019 00:03 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Foto menunjukkan bagian atas dari fasilitas nuklir reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya ibu kota Teheran, Iran.

Foto menunjukkan bagian atas dari fasilitas nuklir reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya ibu kota Teheran, Iran.

Foto: Mehdi Marizad/Fars News Agency via AP
Eropa dinilai harus bertindak jika ingin menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Wakil Presiden Iran Es’hagh Jahangiri mengatakan eropa harus mengambil tindakan nyata jika ingin menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Tanpa ada langkah riil, JCPOA terancam bubar.

Baca Juga

Terkait hal itu, Jahangiri mendorong Eropa agar dapat mendesak Amerika Serikat (AS) mencabut sanksi terhadap Iran. “Daripada mengadakan pertemuan yang berbeda dan menekan Iran untuk tetap dalam kesepakatan, negara-negara Eropa harus memaksa AS untuk meninggalkan sanksi kejamnya,” kata dia, dikutip laman Mehr News Agency, Selasa (16/7).

Dia pun mendesak Eropa menunaikan kewajibannya sesuai ketentuan JCPOA. “Jika Anda berusaha untuk mempertahankan kesepakatan, Anda akan lebih baik memenuhi janji (JCPOA) Anda,” ujar Jahangiri.

Dalam sebuah wawancara dengan NBC Nightly News pada Senin (15/7), Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan pintu untuk berdiplomasi dan berunding dengan negaranya masih terbuka lebar. Namun, pembicaraan hanya dapat terjadi jika Washington mencabut sanksi terhadap Teheran.

Menurut dia, sanksi AS telah mempengaruhi aktivitas perdagangan negaranya. Sanksi pun berdampak pada hubungan perbankan Iran dengan negara lain. “Begitu sanksi dicabut, maka ruang untuk negosiasi terbuka lebar,” ujar Zarif.

Para menteri luar negeri Eropa telah melakukan pertemuan di Brussels, Belgia, pada Senin, untuk membahas nasib JCPOA. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa pengayaan uranium yang baru-baru ini dilakukan Iran bukan merupakan pelanggaran signifikan terhadap JCPOA.

“Hingga saat ini, tidak ada satu pun pihak dalam kesepakatan yang mengisyaratkan niat mereka untuk memohon pasal ini (mekanisme hukuman atas pelanggaran JCPOA oleh Iran),” kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini.

Iran mengaku siap kembali ke situasi ketika JCPOA belum disepakati. Hal itu diungkap juru bicara Badan Energi Atom Iran Behrouz Kamalvandi.

Dia mengatakan, Iran akan berbalik pada era di mana JCPOA belum ditandatangani, kecuali negara-negara Eropa memenuhi kewajibannya sesuai kesepakatan tersebut. “Tindakan ini tidak diambil dari sikap keras kepala, tapi untuk memberi kesempatan diplomasi sehingga pihak lain datang dengan sendirinya dan memenuhi kewajibannya,” ujar Kamalvandi pada Senin.

“Jika orang-orang Eropa dan Amerika tidak ingin memenuhi komitmen mereka, kami akan membuat keseimbangan dalam kesepakatan (JCPOA) ini dengan mengurangi komitmen dan mengembalikan situasinya ke empat tahun yang lalu,” kata Kamalvandi menambahkan.

Saat ini, Eropa masih berusaha untuk mengatur mekanisme Instex, yakni saluran perdagangan berbasis barter dengan Iran. Namun mekanisme Iran yang setara belum diterapkan. Jika mekanismenya berjalan maju, awalnya hanya akan berurusan dengan produk-produk seperti obat dan makanan yang tak dikenai sanksi AS. 

Para pejabat Iran telah berulang kali mengatakan bahwa Instex harus memasukkan penjualan minyak atau menyediakan fasilitas kredit yang substansial agar menguntungkan. Namun, para diplomat Eropa masih mencemaskan bahwa mereka dapat dibidik sanksi Washington. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA