Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Inggris akan Hitung Dampak Pariwisata pada Lingkungan

Kamis 18 Jul 2019 15:54 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Siluet patung mendiang PM Winston Churchill di depan Menara jam Big Ben dan Gedung Parlemen Inggris Selasa  (29/3)

Siluet patung mendiang PM Winston Churchill di depan Menara jam Big Ben dan Gedung Parlemen Inggris Selasa (29/3)

Foto: Hannah McKay/Reuters
Pesatnya pariwisata berkontribusi pada emisi gas rumah kaca di seluruh dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Anggota legislatif Inggris mengatakan mereka akan menghitung dampak pariwisata massal terhadap lingkungan. Komite Pemeriksaan Lingkungan Parlemen Inggris memperingatan pariwisata dapat menjadi ancaman besar bagi bumi. 

Baca Juga

Komite Pemeriksaan Lingkungan mengawasi kebijakan pemerintah Inggris dalam bidang lingkungan. Komite mengatakan pesatnya pertumbuhan pariwisata berkontribusi sebesar 5 persen emisi gas rumah kaca di seluruh dunia. 

Sementara, banjirnya wisatawan merusak sejumlah destinasi wisata. Dari antriean pendakian Everest sampai padatnya pengunjung Venice, mengancam kelestarian destinasi-destinasi wisata tersebut. Belum lagi emisi yang dihasilkan pesawat, kereta, dan mobil.  

"Sekarang musim panas sudah tiba, keluarga-keluarga menantikan liburan yang baik, tapi ketika kami memesan pelayaran dengan kapal pesiar, tiket pesawat, atau mengunjungi destinasi wisata terkenal, sangat mudah melupakan dampak liburan terhadap lingkungan," kata ketua Komite Mary Creaghin dalam pernyataannya, Kamis (18/7). 

Penelitian tahun lalu menunjukkan meledaknya pariwisata menyulitkan upaya memperlambat perubahan iklim. Pesawat menjadi kontributor terbesar dalam emisi gas rumah kaca.

Badan pariwisata PBB, World Tourism Organization mengatakan pada 2018 sekitar 1,4 miliar orang melakukan perjalanan internasional naik 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tiket pesawat murah dan koneksi yang mudah membantu meningkatnya pariwisata massal.  

Inggris menghasilkan miliaran poundsterling dari wisatawan asing. Pendapatan yang dihasilkan dari wisata kerajaan sampai budaya populer. Tapi biaya yang dihabiskan untuk itu juga besar dengan pertimbangan perlu memperluas bandara London Heathrow yang sudah menjadi bandara tersibuk di Eropa. 

Para anggota Parlemen Inggris mengatakan pariwisata yang peduli pada lingkungan dapat meningkatkan pertumbuhan sekaligus melindungi lingkungan. Tapi di banyak kasus 'pariwisata yang berlebihan' berdampak pada rakyat sekitar dan lahan mereka.  

Thailand mengatakan mereka menutup akses ke Maya Bay yang menjadi populer setelah menjadi lokasi film The Beach yang dibintangi Leonardo DiCarpio. Mereka menutupnya selama empat bulan dalam setahun setelah ada wisawatan yang merusak terumbung karang.

Masyarakat di kota-kota di Italia seperti Venesia sampai George Town di Malaysia melakukan unjuk rasa. Mereka memprotes pariwisata telah merusak, meningkatkan harga sewa, dan membuat masyarakat sekitar terpinggirkan.

Komite Lingkungan Parlemen Inggris mengatakan mereka mempertimbangkan apakah pemerintah harus mendukung pariwisata berkelanjutan, apakah pemerintah harus lebih bertanggungjawab untuk atas tindakan wisatawan Inggris di luar negeri dan bagaimana wisata berkelanjutan dapat membantu memotong emisi gas rumah kaca. 

Ben Lynam presiden Travel Foundation, organisasi wisata berkelanjutan mengatakan pemerintah harus segera bertindak, mengawasi dampak pariwisata dan melindungi destinasi wisata. 

"Tidak ada yang mendapatkan keuntungan dari mencapai satu titik di mana semuanya menjadi sangat buruk sehingga Anda harus benar-benar menutup destinasi," kata Lynam. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA