Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Menlu Inggris: Tindakan Iran Berbahaya

Ahad 21 Jul 2019 05:25 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Andri Saubani

Kapal perang Inggris HMS Montrose mengawal kapal tanker Inggris di Selat Hormuz.

Kapal perang Inggris HMS Montrose mengawal kapal tanker Inggris di Selat Hormuz.

Foto: Reuters
Iran merebut kapal tanker berbendera Inggris di Selat Hormuz, Jumat (19/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt menyatakan, Iran mengambil langkah yang berbahaya setelah merebut kapal tanker berbendera Inggris di Selat Hormuz, Jumat (19/7) waktu setempat. Hunt juga menyebut Iran telah melakukan tindakan ilegal.

"Tindakan (Iran) kemarin di Teluk menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan, Iran mungkin memilih jalur berbahaya, perilaku ilegal, dan tidak stabil setelah penahanan legal Gibraltar atas minyak yang ditujukan ke Suriah," kata Hunt, seperti dilansir dari Voice of America, Sabtu (20/7).

Hunt menambahkan, pihaknya akan mempertimbangkan berbagai langkah untuk menemukan cara menyeleseaikan persoalan ini. Sekaligus untuk memastikan keamanan pengiriman dengan kapal tanker.

Sebelumnya, Pengawal Revolusi Iran mengaku telah menangkap dua kapal tanker berbendara Inggris untuk kemudian dibawa ke pelabuhan Bandar Abbas. Satu kapal bernama Stena Impero dan satu lagi bernama Mesdar. Mereka mengumumkan langkah itu dua pekan setelah angkatan laut Inggris menangkap kapal tanker Iran di Gibraltar 4 Juli lalu, atas dugaan penyelundupan minyak ke Suriah.

Dari data pelacakan Refinitiv menunjukkan, Stena Impero dan Mesdar berubah arah dengan tajam dalam waktu 40 menit satu sama lain tak lama setelah memasuki Teluk melalui Selat Hormuz, mengambil arah menuju Iran. Data kemudian menunjukkan Mesdar mengubah arah lagi, menuju ke barat kembali ke Teluk.

Kepala Pelabuhan Bandar Abbas dan Organisasi Maritim di Provinsi Hormozgan selatan, Allahmorad Afifipour mengatakan, ada 23 orang awak kapal yang berada di dalam. "Semua 23 awak kapal akan tetap di kapal sampai penyelidikan selesai," kata Afifipour.

Awak kapal, lanjut Afifipour, terdiri dari 18 warga negara India dan lima lainnya berkebangsaan lain. Kapal dan krunya akan tetap berada di sana sementara penyelidikan atas dugaan pelanggaran kapal itu terus dilakukan.

Sementara itu, operator kapal tanker itu, Stena Bulk, mengatakan pada Jumat kemarin bahwa kapal telah sepenuhnya mematuhi semua peraturan navigasi dan internasional.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA