Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

AS Berencana Kirim Satu Skuadron F-22 ke Arab Saudi

Ahad 21 Jul 2019 06:30 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Jet tempur F22  Raptor

Jet tempur F22 Raptor

AS menyebut ketegangan dengan Iran membuat negaranya kirim jet F-22 ke Arab Saudi

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Amerika Serikat (AS) berencana mengirim satu skuadron pesawat tempur F-22 ke Pangkalan militer Prince Sultan di Arab Saudi. Rencana ini merupakan bagian dari langkah AS menempatkan pasukannya di Arab Saudi yang telah disetujui Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud.

BBC dalam laporannya menyebutkan, AS juga akan mengirim baterai rudal pertahanan udara Patriot. Pentagon mengatakan pasukan AS sedang dikerahkan ke Arab Saudi untuk membela kepentingan Amerika dari ancaman yang dapat terjadi.

Baca Juga

Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran terkait keamanan jalur pelayaran di Teluk. Arab Saudi pun membenarkan bahwa Raja Salman telah menyetujui langkah tersebut untuk memperkuat keamanan dan stabilitas regional.

Untuk diketahui, Kerajaan Arab Saudi tidak pernah lagi menerima pasukan tempur AS sejak 2003. Kehadiran AS di Arab Saudi dimulai dengan adanya Operasi Badai Gurun pada 1991, ketika Irak menginvasi Kuwait.

"Gerakan pasukan ini memberikan pencegah tambahan dan memastikan kemampuan kami untuk mempertahankan pasukan dan kepentingan kami di kawasan dari ancaman yang diyakini akan muncul," demikian pernyataan dari Komando Sentral AS.

Ketegangan antara AS dan Iran semakin memburuk sejak Washington secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 yang penting. AS sejak itu memperketat sanksi yang dijatuhkan kembali pada sektor minyak Iran.

Bulan lalu, Iran menembak jatuh pesawat pengintai AS di Selat Hormuz. Iran menuduh AS melanggar wilayah udara Iran. AS bersikeras bahwa pesawat tak berawak itu telah berada di atas perairan internasional pada saat itu, dan mengutuknya sebagai serangan tidak beralasan.

AS juga meminta Iran untuk melepaskan sebuah kapal tanker berbendera Panama dan 12 awaknya, yang ditangkap oleh Garda Revolusi pada Ahad saat patroli angkatan laut. Iran mengatakan kapal itu telah menyelundupkan bahan bakar.

Kemudian pada Kamis kemarin Presiden Donald Trump mengatakan sebuah kapal perang AS telah menghancurkan pesawat tanpa awak Iran yang terlalu dekat. Dan Iran membantah kehilangan pesawat tak berawak.

Pada Jumat kemarin, ketegangan meningkat lebih tinggi ketika pasukan Iran menyita tanker minyak berbendera Inggris Stena Impero di Teluk dan menyebut kapal tersebut melanggar peraturan.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt geram dan menuntut pembebasan kapal tanker itu, dengan mengatakan akan ada "konsekuensi serius" jika Iran terus menahannya. AS juga menyalahkan Iran atas dua serangan terpisah terhadap tanker minyak di Teluk Oman pada Mei dan Juni, tapi tudingan ini dibantah Teheran.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA