Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Ketegangan AS - Iran, Pengamat: Dilema untuk Turki

Ahad 21 Jul 2019 13:01 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Presiden Turki Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Iran Hassan Rouhani.

Presiden Turki Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Iran Hassan Rouhani.

Foto: REUTERS/Umit Bektas
Turki mengalami dilema karena hubungan dekat dengan Rusia dan Iran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha menilai, pengerahan persenjataan dan pasukan di pangkalan Saudi oleh Amerika Serikat (AS) adalah untuk mengakhiri kebuntuan strategis dan gelar pertahanan terhadap ancaman Iran dari tempat yang tidak berada dalam jangkauan rudal Iran. Dalam krisis ini pun Turki diprediksi akan menjadi negara paling dilematis.

"Dilema keamanan tidak hanya akan dialami oleh kedua negara, namun juga negara NATO apabila konflik terus berlanjut," ujar Arya dalam rilis pers yang diterima Republika.co.id, Ahad (21/7).

Baca Juga

Hal tersebut dikarenakan posisi dilematis Turki terhadap AS sebab tengah intens menjalin komunikasi dengan Rusia dan Iran. Arya menjelaskan, Turki menghadapi kritik dari sebagian kalangan karena posisinya di NATO karena membeli S-400 dari Rusia. 

Turki juga intens berkomunikasi dengan Iran dalam kepentingan menghadapi common threat (ancaman bersama- red) kelompok separatis bersenjata Kurdi di kawasan yang saling berkolaborasi di Turki, Suriah, Irak, dan Iran. Milestone-nya dimulai 2 tahun lalu saat kebijakan pemutusan hubungan diplomatik Saudi terhadap Qatar. 

"Pemutusan Saudi yang kemudian disusul tujuh negara Arab lainnya adalah milestone. Turki mengirim bantuan ke Qatar melalui wilayah Iran," kata Arya.

Faktor lainnya, Arya menjelaskan, Turki menghadapi ancaman PKK Kurdi terhadap keamanan dan kesatuan wilayah nasional Turki, begitupun krisis Suriah. Sayangnya, Turki menganggap AS tidak membantu. Akhirnya, Turki dan Iran bekerja sama di Idlib menghadapi ISIS dan Kelompok Separatis Bersenjata Kurdi yang populasinya juga besar baik di Turki pun Iran.

Iran di sisi lain bekerja sama dengan Turki meski merupakan sekutu AS. Menurut Arya, Iran membutuhkan cara mengurangi isolasi internasional. "Negara sekutu AS paling mungkin yang memiliki common interest dengan Iran adalah Turki," kata Arya

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA