Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Menlu AS akan Bertemu Menlu Meksiko Bahas Imigran

Ahad 21 Jul 2019 19:08 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Indira Rezkisari

Menlu AS Mike Pompeo

Menlu AS Mike Pompeo

Foto: AP
Meksiko telah berkomitmen ke AS mengurangi migrasi dari Amerika Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Mike Pompeo dijadwalkan akan bertemu dengan Menlu Meksiko Marcelo Ebard pada Ahad (21/7) waktu setempat. Pertemuan keduanya akan membahas soal migrasi dan perdagangan di tengah meningkatnya ketegangan bilateral jelang tenggat waktu tentang kesepakatan tarif ekspor Meskiko.

Baca Juga

Di bawah perjanjian Juni dengan AS, Meksiko mencegah tarif sanksi atas pengiriman Meksiko yang terikat di AS yang oleh ancaman janji Presiden AS Donald Trump membendung aliran migran ilegal dari Amerika Tengah pada 22 Juli.

Pertemuan kedua menteri luar negeri pada Ahad pukul 10.30 waktu setempat dilakukan sehari sebelum akhir periode 45 hari berakhir. Pertemuan juga dilakukan ketika anggota parlemen AS berselisih atas kesepakatan perdagangan regional yang menggantikan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) saat ini.

Jika AS menganggap bahwa Meksiko belum berbuat cukup untuk menghalangi migran, kedua negara akan memulai pembicaraan mengenai perubahan peraturan untuk membuat sebagian besar pencari suaka mengajukan permohonan perlindungan di Meksiko, bukan di AS.

Meksiko memang telah lama menolak tekanan AS untuk menerima apa yang disebut status "safe third country". Duta Besar Meksiko untuk Washington, Martha Barcena, pada Kamis lalu mengegaskan bahwa Meksiko telah mengatakan berulang kali negaranya tidak siap untuk menandatangani perjanjian negara ketiga yang aman tersebut.

Sementara Ebrard mengatakan, bahwa Meksiko telah menindaklanjuti komitmennya kepada AS untuk mengurangi migrasi dari Amerika Tengah, setelah jumlah ketakutan para migran di perbatasan AS selatan turun sekitar sepertiga menjadi sekitar 100 ribu pada Juni. Meksiko telah mengerahkan sekitar 21 ribu polisi Garda Nasional militer untuk membendung arus migran.

Meski demikian, pada akhirnya pemerintahan Trump yang akan memutuskan apakah upaya Meksiko dianggap cukup atau tidak. Trump telah menjadikan imigrasi sebagai pondasi bagi kepresidenannya. Ia berjanji untuk membangun tembok di perbatasan selatan dengan Meksiko dalam pencalonannya untuk 2016 lalu. Sejak itu ia telah bertarung dengan Kongres dan di pengadilan untuk mendapatkan dana guna membayarnya.

Pemerintahannya mengumumkan aturan suaka baru pada Senin. Permintaan tersebut bermaksud melarang hampir semua imigran mengajukan permohonan suaka di perbatasan AS-Meksiko. Syaratnya adalah mengharuskan mereka terlebih dahulu mencari tempat berlindung yang aman di negara ketiga tempat mereka melakukan perjalanan dalam perjalanan ke AS, dikutip dari Reuters.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA