Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Oposisi Hong Kong Selidiki Serangan Gangster di Stasiun

Senin 22 Jul 2019 15:52 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Serangan kelompok bertopeng di stasiun kereta Hong Kong

Serangan kelompok bertopeng di stasiun kereta Hong Kong

Foto: Lam Cheuk-ting via AP
Serangan di stasiun kereta Hong Kong diduga dilakukan sindikat kejahatan atau triad.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Anggota legislatif Hong Kong dari partai oposisi sedang menyelidiki serangan terhadap penumpang kereta yang diduga dilakukan sindikat kejahatan internasional atau yang biasa disebut triad. Penyelidikan itu digelar satu hari setelah penumpang kereta diserang sejumlah laki-laki bersenjata.

Serangan itu membuka tabir baru dalam krisis politik di Hong Kong. Suara jeritan terdengar ketika sejumlah laki-laki dengan kaus putih dan membawa senjata besi panjang menyerbu stasiun Yuen Long. 

Baca Juga

Berdasarkan rekaman video yang diambil para penumpang dan anggota legislatif Partai Demokrat Lam Cheuk-ting para laki-laki itu ke masuk ke kereta lalu menyerang penumpang. Beberapa penumpang kereta baru pulang dari unjuk rasa anti-pemerintah. 

Serangan juga dilakukan setelah beberapa ribu aktivis mengepung gedung perwakilan rakyat Hong Kong yang akhirnya memicu bentrokan dengan polisi. Stasiun televisi milik pemerintah Hong Kong RTHK melaporkan Lam mengatakan ia marah dengan betapa lambatnya polisi menanggapi laporan serangan itu. 

Lam yang terluka dalam serangan tersebut  mengatakan polisi gagal melindungi warga dan membiarkan triad merajalela. Kin,i partainya sedang melakukan penyelidikan. 

"Apakah Hong Kong sekarang membiarkan triad untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan, memukuli orang di jalanan dengan senjata?" kata Lam kepada wartawan, Senin (22/7).  

Hong Kong diguncang serangkaian unjuk rasa yang kerap berakhir dengan kerusuhan. Lebih dari dua bulan mantan koloni Inggris tersebut menghadapi krisis paling buruk sejak mereka diserahkan kembali ke China pada tahun 1997. 

Pengunjuk rasa meminta rancangan undang-undang ekstradiksi yang membuat tersangka dibawa ke Cina sepenuhnya dicabut. Mereka khawatir hal itu dapat merusak supremasi hukum di Hong Kong. Para demonstran juga meminta penyelidikan kekerasan yang dilakukan polisi terhadap mereka.

Pada Ahad (22/7), polisi membubarkan pengunjuk rasa dengan peluru karet dan gas air mata. Mereka membubarkan paksa pengunjuk rasa yang berkumpul di distrik keuangan Hong Kong setelah melarikan diri dari kantor penghubung Cina.     

Pihak berwenang rumah sakit mengatakan ada 45 orang yang terluka dalam serangan di Yuen Long. Satu orang dalam kondisi kritis. Sementara, pihak berwenang mengatakan sebanyak 13 orang terluka dan satu orang dalam kondisi kritis.

Dalam pernyataannya polisi mengatakan mereka 'sangat mengutuk' dua kekerasan tersebut. Mereka sedang menyelidiki dua peristiwa itu. Dalam pernyataan tersebut mereka juga mengatakan ada beberapa polisi yang terluka karena pengunjuk rasa melemparkan batu bata, granat asap, dan bom bensin. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA