Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Iran Peringatkan Barat tak Memulai Konflik

Selasa 23 Jul 2019 10:18 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif.

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif.

Foto: Reuters
Menlu Iran menegaskan Teheran tidak mencari konfrontasi militer.

REPUBLIKA.CO.ID, MANAGUA – Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif memperingatkan Barat agar tak memulai konflik terhadap negaranya. Dia menegaskan bahwa Teheran tak mencari konfrontasi militer.

“Memulai konflik itu mudah, mengakhirinya tidak akan mungkin,” kata Zarif di sela-sela kunjungannya ke Nikaragua pada Senin (22/7).

Baca Juga

Pada kesempatan itu, dia turut mengomentari tentang penahanan kapal tanker Inggris, Stena Impero, oleh negaranya saat melintasi Selat Hormuz. Zarif mengatakan kapal tersebut ditangkap untuk menerapkan hukum internasional.

Dia menyangkal tudingan bahwa Stena Impero ditahan sebagai aksi balasan karena Inggris telah menangkap kapal tanker Iran pada awal Juli lalu. “Kapal Inggris telah menolak sinyalnya selama lebih dari yang diizinkan (dan) melewati kanal yang salah, membahayakan keselamatan dan keamanan pengiriman serta navigasi di Selat Hormuz, yang menjadi tanggung jawab kami,” ucapnya.

Oleh sebab itu, dia berharap Inggris dapat memahami hal tersebut. “Penting bagi semua orang menyadari, penting bagi Boris Johnson memahami, bahwa Iran tidak mencari konfrontasi militer,” kata Zarif. Johnson merupakan kandidat yang digadang-gadang akan menggantikan posisi Theresa May sebagai perdana menteri Inggris.

Stena Impero ditahan Garda Revolusi Iran saat melintasi Selat Hormuz pada Jumat pekan lalu. Ia ditangkap bersama kapal tanker berbendera Liberia. Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt mengatakan tindakan penahanan terhadap Stena Impero oleh Iran tak dapat diterima.

Pada 4 Juli lalu, Marinir Kerajaan Inggris diketahui menangkap dan menahan kapal tanker Iran, Grace 1, di Selat Gibraltar. Grace 1 diduga hendak mengirim pasokan minyak ke Suriah yang tengah berada di bawah sanksi Uni Eropa.

Awalnya Grace 1 akan dibebaskan dua pekan setelah penangkapan. Namun, Mahkamah Agung Gibraltar telah memperpanjang masa penahanannya hingga satu bulan ke depan.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan akan merespons tindakan Inggris yang telah menahan Grace 1. Dia menilai hal itu sebagai sebuah pembajakan.

“Inggris melakukan pembajakan dan mencuri kapal kami serta memberikannya penampilan yang legal. Iran dan mereka yang percaya pada sistem kami tidak akan membiarkan perbuatan jahat seperti itu tak terjawab,” kata Khamenei. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA