Selasa 23 Jul 2019 17:00 WIB

Palestina Ajukan Bebas Bea Masuk 61 Komoditas ke Indonesia

Pembebasan bea masuk untuk meningkatkan perdagangan Palestina dan Indonesia.

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Nur Aini
Indonesia dan Palestina akan segera menandatangani perjanjian perdagangan bebas Preferential Trade Agreement (PTA)
Foto: Republika/Halimatus Sa'diyah
Indonesia dan Palestina akan segera menandatangani perjanjian perdagangan bebas Preferential Trade Agreement (PTA)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Palestina akan mengajukan pembebasan bea masuk untuk 61 produknya. Hal itu sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kinerja perdagangan antara Palestina dan Indonesia yang hanya mencapai 5 juta dolar AS per tahun. Sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah memberikan pembebasan bea masuk untuk komoditas kurma dan zaitun serta turunannya asal Palestina.

"Kami sudah bertemu dengan Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia dan Kementerian Perdagangan. Kami berharap, 61 produk bisa dibebaskan bea masuk," kata Direktur Pengembangan Perdagangan Kementerian Ekonomi Palestina Jawad Almuty dalam konferensi pers terkait kunjungan misi dagang Palestina ke Indonesia di Kedubes Palestina, Jakarta pada Selasa (23/7).

Baca Juga

Almuty mengaku belum bisa membeberkan detail komoditas tersebut. Dia mengatakan, hal itu baru akan disampaikan setelah kerja sama tersebut rampung.

Dia menyampaikan, perdagangan Indonesia-Palestina masih relatif kecil dibandingkan dengan total perdagangan internasional yang dilakukan Palestina. Dalam setahun nilai perdagangan internasional Palestina mencapai 5 miliar dolar AS, sementara perdagangan dengan Indonesia hanya sebesar 5 juta dolar AS atau 0,1 persen.

"Jadi masih sedikit sekali. Kami datang dan ingin menggenjot lebih tinggi," kata Almuty.

Direktur Kebijakan Perdagangan Pusat Perdagangan Palestina (Pal Trade) Shadi Shaheen mengatakan, produk-produk asal Palestina telah diakui dunia internasional. Sejumlah produk makanan halalnya pun sudah mendapatkan penghargaan dari Malaysia.

Shaheen menyampaikan, saat ini pihaknya sedang menyelesaikan pengesahan logo produk ekspor Palestina. Nantinya, logo bergambar burung madu Palestina atau Palestine Sunbird akan menjadi penanda produk ekspor berkualitas tinggi dari Palestina.

"Dengan adanya logo ini berarti kami menjamin barang tersebut punya kualitas terbaik," kata Shaheen.

Ketua Komite Tetap Timur Tengah dan Organisasi Kerja Sama Islam Kadin Indonesia Fachry Thaib mengaku telah mempertemukan 200 pengusaha dengan pihak Palestina. Hal itu membahas potensi-potensi pengembangan perdagangan yang bisa dilakukan oleh kedua negara.

Fachry menyampaikan, Palestina saat ini sedang berupaya mengembangkan kawasan industri. Pengusaha Indonesia pun telah diajak untuk ikut mengembangkan kawasan yang berlokasi di Jericho tersebut.

Meski begitu, menurut Fachry, saat ini pihaknya lebih berkonsentrasi untuk bisa meningkatkan ekspor ke Palestina. Salah satunya untuk mendukung kebutuhan kawasan industri tersebut.

Dengan pembahasan perjanjian dagang yang akan dilakukan Pemerintah Indonesia dan Palestina, Fachry berharap nilai perdagangan kedua negara bisa meningkat signifikan.

"Minimal, kalau bisa ya 100 juta dolar AS lah," ujarnya.

Dia mengaku, saat ini Indonesia baru mengekspor rempah-rempah, furnitur, obat-obatan, kopi, dan makanan ringan ke Palestina. Menurutnya, Indonesia punya potensi untuk meningkatkan ekspor lewat produk manufaktur lain seperti otomotif.

"Mobil rakitan Indonesia itu banyak di Timur Tengah. Kenapa tidak di Palestina sekalian?" ujar Fachry.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement