Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memanas

Jumat 12 Jul 2019 07:56 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Kapal tanker (Ilustrasi)

Kapal tanker (Ilustrasi)

Foto: VOA
Garda Revolusi Iran membantah tudingan berupaya mencegat kapal tanker Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Tiga kapal milik Garda Revolusi Iran dilaporkan berupaya mencegat kapal tanker Inggris di Selat Hormuz pada Kamis (11/7). Namun, aksi tersebut berhasil digagalkan. 

Baca Juga

Kapal tanker yang menjadi target Iran bernama British Heritage yang dioperasikan BP, perusahaan minyak multinasional Inggris bermarkas di London. Kapal tersebut terdaftar di Isle of Man, sebuah dependensi Kerajaan Inggris yang terletak di Laut Irlandia. 

Saat melintasi Selat Hormuz pada Kamis pagi, British Heritage didekati tiga kapal Iran. Mereka diduga hendak mencegat dan menahan kapal tersebut. Namun, ketiga kapal itu segera berbalik saat kapal angkatan laut Inggris HMS Montrose menghampiri British Heritage.

HMS Montrose saat ini memang sedang melaksanakan misi tiga tahun di fasilitas pendukung angkatan laut Inggris di Bahrain, yakni pusat operasi mereka di sebelah timur Terusan Suez. 

"HMS Montrose terpaksa memposisikan dirinya di antara kapal-kapal Iran dan British Heritage dan mengeluarkan pernyataan lisan kepada kapal-kapal Iran yang kemudian berbalik," kata sebuah pernyataan yang dirilis Pemerintah Inggris. 

Inggris menyayangkan adanya aksi tersebut. "Kami prihatin dengan tindakan ini dan terus mendesak Pemerintah Iran untuk melakukan deeskalasi di kawasan itu," ucapnya. 

BP mengucapkan terima kasih atas kesigapan angkatan laut Inggris. "Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan dan keamanan awak serta kapal kami," katanya dalam sebuah pernyataan. BP menolak mengomentari lebih jauh soal peristiwa itu. 

Sementara itu, Garda Revolusi Iran membantah tudingan bahwa kapal mereka berupaya mencegat kapal tanker Inggris. Ia mengklaim jika memang menerima perintah pencegatan atau perebutan kapal, dari mana pun kapal itu berasal, instruksi tersebut akan segera dilaksanakan. 

Pekan lalu Marinir Kerajaan Inggris menahan kapal Iran, yakni Grace 1, saat melintasi Selat Gibraltar. Kapal tersebut diduga hendak mengirim minyak ke Suriah yang berada di bawah sanksi Uni Eropa. 

Menurut otoritas Gibraltar, minyak yang diangkut Grace 1 akan dibawa ke kilang Baniya di Suriah. Kilang itu disebut milik entitas yang dikenai sanksi Uni Eropa. 

Pemerintah Gibraltar menyatakan telah menerima izin dari pengadilan tertinggi di sana untuk menahan Grace 1 selama 14 hari. Hal itu tak pelak memicu kecaman dari Teheran. 

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membantah bahwa Grace 1 hendak berlayar ke Suriah. “Terlepas dari apa yang diklaim oleh Pemerintah Inggris, target dan tujuan kapal tanker ini bukan Suriah. Pelabuhan yang mereka sebutkan di Suriah pada dasarnya tak memiliki kapasitas untuk kapal super-tanker seperti itu,” kata Araqchi.

Dia mengatakan, kapal Grace 1 memiliki kapasitas untuk mengangkut dua juta barel minyak. Oleh sebab itu, ia melakukan perjalanan melalui Selat Gibraltar daripada Terusan Suez.

Karena melintasi perairan internasional, menurut Araqchi, Inggris tak memiliki dasar hukum untuk menahan Grace 1. “Dalam pandangan kami, penghentian kapal ini adalah perampokan laut dan kami ingin kapal tanker ini dibebaskan,” ujarnya.

Pada Selasa lalu, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford mengatakan negaranya sedang berusaha membentuk koalisi militer untuk melindungi kapal-kapal komersil yang melintasi Selat Hormuz. “Kami sekarang terlibat dengan sejumlah negara untuk melihat apakah kami dapat mengumpulkan koalisi yang akan memastikan kebebasan navigasi, baik di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab,” ujarnya. 

Menurut Dunford, Pentagon telah mengembangkan rencana spesifik. “Jadi saya pikir mungkin selama beberapa pekan ke depan kami akan mengidentifikasi negara mana yang memiliki kemauan politik untuk mendukung inisiatif itu dan kemudian kami akan bekerja secara langsung dengan militer untuk mengidentifikasi kemampuan khusus yang akan mendukungnya,” ucapnya.

Peristiwa di Selat Hormuz semakin meningkatkan ketegangan di kawasan. Hal itu diperkeruh pula oleh keputusan Iran melakukan pengayaan uranium hingga melampaui batas yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). 

 

sumber : AP/Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA