Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Mueller Pertahankan Penyelidikannya Soal Rusia

Kamis 25 Jul 2019 04:55 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

Mantan penasihat khusus Robert Mueller pada Rabu (24/7) dalam kesaksiannya di kongres Amerika Serikat (AS).

Mantan penasihat khusus Robert Mueller pada Rabu (24/7) dalam kesaksiannya di kongres Amerika Serikat (AS).

Foto: AP Photo/Alex Brandon
Mueller menduga Rusia membantu Trump menjadi presiden AS.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Mantan penasihat khusus Robert Mueller pada Rabu (24/7) dalam kesaksiannya di kongres Amerika Serikat (AS) mengatakan belum melepaskan dakwaannya terhadap Presiden Donald Trump yang jadi penghalang penegakan keadilan. Sebelumnya, Partai Republik berulang kali menyerang penyelidikan yang dilakukan Mueller terhadap Trump.

Mueller awalnya bersaksi dia akan berusaha menuntut Trump kalau tidak ada kebijakan dari Departemen Kehakiman yang melarang pengajuan tuntutan pidana terhadap presiden. Namun, beberapa jam kemudian Mueller mengoreksi dirinya.

Baca Juga

"Kami tidak mencapai ketetapan apakah presiden (Trump) melakukan kejahatan," katanya, Rabu (24/7).

Mueller muncul di depan publik untuk pertama kalinya selama melakukan penyelidikan. Dia muncul untuk memberi kesaksiannya yang ditunggu-tunggu dalam dengar pendapat kongres. Kesaksiannya akan berpengaruh besar bagi Trump dan Partai Demokrat yang terbagi antara memakzulkan atau pindah pada pemilihan di 2020.

Mantan direktur FBI itu muncul selama 3,5 jam di depan Komisi Kehakiman DPR. Sebelumnya, Mueller telah menghabiskan waktu 22 bulan untuk menyelidiki dugaannya terhadap campur tangan Rusia yang sistematis dalam pemilihan umum AS pada tahun 2016. Dia menduga Rusia membantu Trump menjadi presiden AS.

Mueller kemudian muncul di hadapan Komisi Intelijen DPR untuk ditanyai lebih lanjut. Partai Demokrat mengontrol DPR, sementara rekan-rekan Trump dari Partai Republik mengendalikan Senat.

Ketua Komisi Kehakiman dari Demokrat, Jerrold Nadler memuji Mueller, tidak ada yang lain termasuk Trump berada di atas hukum. Kemudian, Ketua Komisi Intelijen dari Demokrat, Adam Schiff menuduh Trump saat kampanye 2016 tidak setia terhadap negara. Sebab Trump telah mengundang, mendorong dan memanfaatkan campur tangan Rusia dalam pemilihan umum.

Tetapi sekutu Trump dari Partai Republik di komisi mencoba menggambarkan investigasi Mueller sebagai ketidakadilan terhadap presiden. "Kamu mengabaikan ketidakadilan," kata Louie Gohmert kepada Mueller. Kemudian Guy Reschenthaler mengatakan cara penyelidikan yang dilakukan Mueller tidak seperti Amerika. 

"Selamat datang semua orang, ke nafas terakhir dari teori konspirasi kolusi Rusia," kata Devin Nunes sebagai petinggi Partai Republik di Komisi Intelijen DPR.

Laporan Mueller setebal 448 halaman dirilis dalam bentuk redaksi pada 18 April, tapi tidak mencapai kesimpulan apakah Trump melakukan kejahatan dengan menghalangi proses penegakan hukum melalui rangkaian aksinya yang bertujuan menghambat penyelidikan. Tapi Mueller tetap tidak melepaskan dakwaannya terhadap Trump.

Perwakilan Partai Demokrat, Ted Lieu bertanya kepada Mueller dalam sidang pertama, apa alasan Mueller tidak membawa dakwaan pidana terhadap Trump karena kebijakan Departemen Kehakiman yang dibuat oleh Kantor Penasihat Hukum agar tidak mengajukan tuntutan pidana terhadap presiden. "Itu benar," jawab Mueller.

Tapi Mueller pada sidang kedua mengatakan hal lain. "Saya ingin kembali ke satu hal yang dikatakan pagi ini oleh Tuan Lieu yang berkata dan saya kutip, 'Anda tidak menuntut presiden karena pendapat Departemen Kehakiman', itu bukan cara yang benar untuk mengatakannya, seperti yang kami katakan dalam laporan dan seperti yang saya katakan pada pembukaan, kami tidak mencapai kepastian apakah presiden melakukan kejahatan," ujarnya.

"Apakah Anda (Mueller) benar-benar membebaskan presiden dari tuduhan?, tanya Nadler pada Mueller. "Tidak," jawab Mueller.

Juru bicara Mueller, Peter Carr dan juru bicara Departemen Kehakiman, Kerri Kupec mengeluarkan pernyataan bersama pada 29 Mei. Mereka mengatakan Jaksa Agung William Barr sebelumnya menyatakan Mueller berulang kali menegaskan dia tidak mengatakan itu, tetapi itu opini Kantor Departemen Hukum bahwa Mueller menemukan presiden menghalangi proses penegakan keadilan. Ditanya di persidangan apakah Mueller setuju dengan pernyataan pada 29 Mei itu, Mueller menjawab harus melihatnya lebih dekat.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA