Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sejarah Hari Ini: AS dan Uni Soviet Sepakat Kurangi Nuklir

Rabu 31 Jul 2019 08:59 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Misil nuklir Rusia

Misil nuklir Rusia

AS dan Uni Soviet sepakat mengurangi persediaan hulu ledak nuklir pada 1991.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pada 31 Juli 1991 Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet menandatangani perjanjian bersejarah untuk mengurangi persediaan hulu ledak nuklir menjadi sekitar sepertiga. Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis, yang dikenal sebagai Start, ditandatangani di Moskow oleh Presiden AS George Bush dan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev.

Pada konferensi pers bersama setelah proses penandatanganan, Bush mengatakan, bahwa perjanjian Start merupakan langkah maju yang signifikan dalam menghilangkan setengah abad ketidakpercayaan antara keduanya. Sementara Gorbachev mengatakan, pihaknya berjanji perjanjian tersebut akan menjadi awal dari proses pengurangan senjata, meski ia menekankan bahwa masih banyak yang harus dilakukan.

Baca Juga

Laman BBC History menuliskan, perjanjian tersebut membutuhkan lebih dari sembilan tahun untuk dinegosiasikan. Proses negosiasi tentang mengurangi senjata nuklir strategis masing-masing pihak sekitar 35 persen telah dibicarakan selama tujuh tahun. Rudal balistik antarbenua berbasis darat Uni Soviet juga akan dipotong sebesar 50 persen.

Itu adalah perjanjian besar pertama antara kedua negara mengenai pengurangan senjata sejak perjanjian Salt yang ditandatangani pada tahun 1972 dan 1979. Perjanjian Salt membatasi jumlah rudal nuklir jarak jauh.

Perjanjian Start melangkah lebih jauh. Perjanjian tersebut merupakan kekuatan super kedua negara dalam mengurangi armada rudal dan pengebom nuklir yang tidak hanya membatasi ekspansi. Meski demikian, perjanjian masih meninggalkan AS dan Uni Soviet masing-masing dengan 9.000 dan 7.000 hulu ledak. 

Sepanjang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dua hari AS dan Soviet, penekanannya adalah pada kerja sama era baru. Kala itu, Bush dan Gorbachev menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membahas upaya Gorbachev mereformasi ekonomi Soviet yang tengah menurun dan bantuan yang ditawarkan oleh Barat. Kedua pemimpin juga membahas konferensi perdamaian Timur Tengah yang disponsori bersama. 

Kunjungan Bush terjadi pada saat meningkatnya kerusuhan di republik Soviet. Enam bulan lalu Moskow menghentikan pemberontakan di Lithuania, dan baru kemarin enam penjaga perbatasan Lithuania terbunuh dalam keadaan yang mencurigakan.

Baik Bush dan Gorbachev mengatakan mereka menyesali insiden itu, tetapi menolak berkomentar lebih lanjut. Dalam indikasi keseimbangan kekuatan yang halus di Uni Soviet, Bush telah mengambil waktu selama kunjungannya untuk bertemu dengan Presiden Republik Rusia, Boris Yeltsin, untuk pembicaraan pribadi. Namun, ia dengan cepat meyakinkan para jurnalis di Moskow bahwa ia terus mendukung Gorbachev dan pemerintah Soviet.

Setelah perjanjian tersebut, Uni Soviet runtuh pada Desember 1991, sebelum Start dapat diratifikasi. Setelah masa diplomasi yang intens, kesepakatan dicapai dengan Federasi Rusia dan tiga negara Soviet di mana senjata nuklir ditempatkan yakni di Ukraina, Belarus, dan Kazakhstan.

Perjanjian Start akhirnya mulai berlaku pada bulan Desember 1994, meskipun target yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut tidak terpenuhi sampai 2001. Pada 1993, perjanjian Start II sepakat untuk membatalkan 3.000-3.500 hulu ledak lebih lanjut. Perjanjian itu diratifikasi oleh Kongres AS pada 1996. Pada 1997, Presiden AS Bill Clinton dan Presiden Rusia Boris Yeltsin memperpanjang batas waktu perjanjian tersebut hingga 2007, dan memulai negosiasi tentang perjanjian Start III untuk pengurangan lebih lanjut.

Akhirnya Start II dan Start III digantikan oleh perjanjian pengurangan senjata lebih lanjut yang ditandatangani pada 2002. Perjanjian Pengurangan Ofensif Strategis, lebih dikenal sebagai Perjanjian Moskow, bertujuan untuk mengurangi hulu ledak nuklir dari masing-masing pihak menjadi antara 1.700 dan 2.200 pada 2012 atau pengurangan sekitar dua per tiga.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA