Kamis 01 Aug 2019 16:40 WIB

Pompeo: AS tidak Minta Asia Berpihak Soal Laut Cina Selatan

Perselisihan antara AS-Cina membawa ASEAN ke posisi yang sulit.

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di Washington.
Foto: AP Photo/Sait Serkan Gurbuz
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di Washington.

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengatakan Washington tidak meminta negara Asia untuk memihak dalam perselisihan mereka dengan China di Laut China Selatan. Beijing secara agresif memperluas klaim mereka diperairan strategis tersebut.

Pompeo memuji kerangka kerja keterlibatan Indo-Pasifik yang diadopsi Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN) pada bulan Juni lalu. Kerangka kerja tersebut mendukung kedaulatan, transparansi, pemerintahan yang baik dan peraturan berdasarkan ketertiban lainnya.

Baca Juga

Perselisihan antara AS-China di Laut China Selatan membawa ASEAN ke posisi yang sulit. Kerangka baru tersebut bertujuan agar blok 10 negara anggota itu tetap berada di jalan tengah antara Washington dan Beijing. 

"Begini, kami tidak pernah meminta negara Indo-Pasifik mana pun untuk memilih antara dua negara, keterlibatan kami di wilayah ini tidak pernah dan tidak akan pernah zero sum (satu aspek mematikan aspek yang lain), kepentingan kami secara alami bersatu dengan kepentingan Anda untuk saling menguntungkan," kata Pompeo dalam pidatonya di pertemuan tahunan ASEAN di Bangkok, Thailand, Kamis (1/8).

Ia menambahkan hubungan AS dengan ASEAN diarahkan oleh komitmen bersama atas supremasi hukum, hak asasi manusia dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Beijing melebarkan pengaruhnya di kancah internasional melalui inisiatif Belt and Road.

Program pembangunan ambisius dalam proyek-proyek infrastruktur besar. Sementara Washington mempromosikan strategi visi mereka sendiri yakni Indo-Pasifik yang Terbuka dan Bebas, sesuatu yang Beijing lawan.

Meski nada Pompeo di Bangkok cukup positif, tapi dia dan pejabat-pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump sudah lama memperingatkan bahaya investasi Rusia dan China. Selama berbulan-bulan pejabat-pejabat AS memperingatkan resiko investasi dua negara itu dibidang teknologi dan infrastruktur. 

Dalam turnya di Eropa awal tahun ini Pompeo memberitahu Polandia, Hungaria dan Inggris serta beberapa negara lainnya tentang bahayanya teknologi perusahaan Huawei. AS mengancam akan membatasi kerja sama intelijen dengan negara-negara jika mereka menggunakan Huawei dalam proyek 5G.

Di Amerika Latin, Pompeo dan pejabat AS lainnya mengatakan investasi China sangat berisiko. Pompeo memperingatkan ada harga yang harus dibayar dari bantuan dan investasi China. Menurutnya, China hanya ingin memperkaya diri mereka sendiri dengan praktik semacam itu.

Pernyataan Pompeo di Bangkok dikatakan satu hari setelah China memperingatkan ada upaya mengadu domba antara China dan ASEAN. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan setiap perbedaan dapat diselesaikan oleh pihak yang bertikai.

Ia juga kembali memastikan komitmen China menyelesaikan pembahasan Code of Conduct (CoC) atau kode etik perilaku untuk Laut China Selatan. Kode etik yang akan diharapkan dapat membuat perairan yang disengketakan itu lebih stabil.   

Klaim-klaim wilayah yang dilakukan China di Laut Cina Selatan memicu teguran AS. Sengketa perairan itu menjadi titik panas di kawasan Asia Tenggara. Wilayah yang juga diperebutkan Malayasia, Filipina, Malaysia, dan Brunei.

Wang sempat mengadakan pertemuan dengan Pompeo di Bangkok. Ia mengatakan kedua belah pihak saling tukar pandangan dalam upaya meningkatkan hubungan bilateral 'yang ditentukan oleh koordinasi, kooperasi, dan stabilitas'.

"Menteri Luar Negeri Pompeo menegaskan baik Presiden Trump atau pun pemerintah AS tidak memiliki niatan untuk menahan pembangunan China, Amerika Serikat berharap untuk melihat kemajuan yang mulus dalam perundingan ekonomi dan perdagangan AS-China," kata Wang.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement