Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Iran akan Kembali Kurangi Komitmen Perjanjian Nuklir

Sabtu 03 Aug 2019 16:05 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani

Foto menunjukkan bagian atas dari fasilitas nuklir reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya ibu kota Teheran, Iran.

Foto menunjukkan bagian atas dari fasilitas nuklir reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya ibu kota Teheran, Iran.

Foto: Mehdi Marizad/Fars News Agency via AP
JCPOA yang mulai goyah setelah ditinggal Amerika Serikat

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Iran akan mengurangi kembali komitmennya dalam perjanjian nuklir tahun 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif pada Sabtu (3/8).

“Langkah ketiga dalam mengurangi komitmen untuk (JCPOA) akan dilaksanakan dalam situasi saat ini,” kata Zarif. Menurutnya, langkah itu akan tetap ada dalam agenda negaranya.

Dia menilai, negara-negara pihak dalam JCPOA memperlihatkan kelambanan untuk menjaga perjanjian tersebut. “Kami telah mengatakan bahwa jika pihak-pihak lain di JCPOA tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban mereka, kami akan mematuhi kesepakatan sebagian, meskipun semua langkah kami (sejauh ini) berada dalam kerangka kerja JCPOA,” ucapnya.

Pernyataan Zarif muncul beberapa hari setelah perwakilan penandatangan JCPOA, yakni Inggris, Prancis, Cina, Rusia, dan Jerman, mengadakan pertemuan di Wina, Austria. Mereka membahas tentang nasib JCPOA yang mulai goyah setelah ditinggal Amerika Serikat (AS) tahun lalu.

Mereka menolak untuk menuruti tuntutan Presiden AS Donald Trump. Keempat negara akan mencoba menyelamatkan JCPOA melalui mekanisme Instex, yakni saluran perdagangan berbasis barter dengan Iran.

Sejak hengkang dari JCPOA, AS memang kembali menerapkan sanksi ekonomi terhadap Teheran. Sanksi itu membidik berbagai jenis komoditas negara tersebut, termasuk minyak mentahnya.

Para pejabat Iran telah berulang kali mengatakan bahwa Instex harus memasukkan penjualan minyak atau menyediakan fasilitas kredit yang substansial agar menguntungkan. Namun para diplomat Eropa masih mencemaskan bahwa mereka dapat dibidik sanksi Washington.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA