Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Iran Ragukan Tawaran Dialog AS

Senin 29 Jul 2019 16:55 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

(Ilustrasi) bendera iran

(Ilustrasi) bendera iran

Foto: wikipedia.org
Iran menilai AS tidak mencari jalan dialog untuk membahas masalah kedua negara.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Pemerintah iran mengatakan pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) hanya dapat dilakukan jika didasarkan pada agenda tertentu. Namun, Teheran menilai Washington memang tak mencari dialog dengan mereka.

Baca Juga

“Dialog dan negosiasi dapat diadakan ketika kita memiliki agenda tertentu dan ketika kita bisa mendapatkan beberapa hasil nyata dan praktis dari hal itu,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi pada Senin (29/7) dikutip laman Al Arabiya.

Berkaca dari tindak tanduk AS, Mousavi meragukan jika mereka hendak melakukan pembicaraan dengan negaranya. “Mereka bukan untuk pembicaraan, mereka tidak mencari dialog,” ujarnya.

Sementara itu, pada Ahad lalu, negosiator nuklir Iran Abbas Aragchi melakukan pertemuan dengan perwakilan Jerman, Inggris, Prancis, Rusia, dan China di Wina, Austria. Mereka membahas tentang upaya mempertahankan kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Aragchi mengungkapkan pertemuan itu berjalan konstruktif. “Suasananya konstruktif, diskusi itu bagus. Saya tidak bisa mengatakan bahwa kami menyelesaikan semuanya, saya bisa mengatakan ada banyak komitmen,” kata dia.

Pertemuan di Wina berlangsung bersamaan dengan pengumuman dimulainya kembali aktivitas di reaktor nuklir Arak. Kegiatan tersebut mencakup produksi plutonium, yakni bahan baku yang digunakan dalam hulu ledak nuklir.

Sejak awal Juli lalu, Iran mulai menangguhkan komitmennya dalam JCPOA. Hal itu merupakan upaya Teheran untuk menekan Eropa agar melindungi aktivitas perdagangannya dari sanksi AS. Langkah pertama yang dilakukan Teheran adalah melakukan pengayaan uranium melampaui ketentuan yang ditetapkan JCPOA, yakni sebesar 3,67 persen. Iran mengklaim saat ini pengayaan uraniumnya telah mencapai lebih dari 4,5 persen. 

Iran masih menyatakan bahwa pengayaan uranium itu dilakukan hanya untuk tujuan damai. Di sisi lain, level pengayaan yang saat ini telah dicapai masih jauh dari cukup untuk memproduksi senjata nuklir. Namun ia tak ragu untuk mengambil langkah lebih lanjut jika Eropa dan AS tak mengubah sikap dan pendekatannya. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA